Orangtua Bertetangga

Tinggalkan komentar

Banyak sekali pelajaran yang aku ambil sore tadi. Anak-anak paadu omong, orangtua pusing, jadi emosional deh.
Hmm. Benarlah, kebaikan hanya dianugerahkan pada orang-orang yang sabar. Karena sabar adalah pelita, pelita yang memiliki panas (Riyadhus Shalihin, hadits ke 25), namun hanya dengan panas itulah orang-orang yang sabar selamat.
Ya Alloh..anugerahkan kami kesabaran..amiin.

Islam Liberal dan Orang Utan

2 Komentar

Saat membaca kata pengantar pada buku Islam Liberal 101 karya Akmal Sjafril, saya sampai membuka lagi sampul depan buku itu demi mengetahui judul buku itu lagi, batin saya, ini teh judulnya Liberal 101 apa Islam Liberal 101 sih?. Kemudian ketika saya melihat sampul tersebut ternyata judulnya ada Islamnya, agak kecewa, tapi saya tepis, oh mungkin untuk memudahkan penyebaran buku ini, istilah Islam Liberal sudah kadung dikenal.

Kemudian saya lanjutkan membaca dan terlupakanlah kegusaran saya tadi. Ternyata dan ternyata, kegusaran saya menemukan jawabannya pada bab Permainan Istilah. Let’s check this out!

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam pengantar untuk buku 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, istilah ”Islam Liberal” pada akhirnya terpaksa digunakan juga. Pertama, karena istilah ini sudah terlanjur dikenal luas. Kedua, karena ada kaidah dalam bahasa Indonesia yang mengizinkan suatu kata disandingkan dengan kata yang lainnya sehingga menghasilkan pengertian yang sangat berbeda dengan kata pertama. Sebagaimana orang utan bukanlah orang dan buaya darat bukanlah buaya, maka kita tak perlu khawatir menggunakan istilah ”Islam Liberal” dengan logika yang sama.

Toeng toeng toeng…toeng toeng toeng…
Setelah itu saya pun tersenyum lebar dan semakin semangat membacanya.😀

2010-12-16, Malam 11 Muharram 1432
Cucian piring numpuk, cucian tadi separo lagi belum dijemur.. Semangat semangat!!
*Syafakalloh ya sayang..

Pendidikan Islami Sejak Dini

Tinggalkan komentar

Anak adalah amanah yang diberikan Allah Swt pada para orang tua. Karenanya, orang tua berkewajiban mengasuh, mendidik, melindungi dan menjaga amanah Allah itu agar menjadi generasi muslim yang bukan hanya sukses di dunia, tapi juga di akhirat kelak.

Dalam keseharian, para ibulah yang memegang peranan penting dalam pengasuhan dan pendidikan putra-putrinya. Pernahkah para ibu merenungkan sejauh mana peranan yang mereka mainkan akan berpengaruh dalam perjalanan hidup si anak? Kita semua tahu bahwa semua perbuatan manusia selama di dunia dicatat dalam sebuah buku yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Begitu pula anak-anak kita kelak, dan isi catatan buku mereka selama di dunia sangat tergantung dengan bagaimana cara kita mendidik mereka, apakah kita menerapkan pola pengasuhan dan pendidikan yang cukup Islami.

Sebagai contoh, apakah anak-anak kita sekarang sudah memahami tentang hubungannya dengan Sang Pencipta? Lagi

Say Yes To Breakfast

Tinggalkan komentar

Sarapan bikin gemuk? Ada yang bilang malah bisa memperlancar otak? Lalu mana yang benar? Sebenarnya apa pentingnya sarapan pagi?

 

 

Banyak orang menyepelekan makan pagi atau sarapan. Alasannya, takut mengantuk di kala kerja. Atau sudah terbiasa tidak sarapan. Bahkan seorang ibu beralasan, “Anak-anak lagi aktif-aktifnya. Kalau disuruh sarapan nanti mereka kehilangan waktu buat main, kan makannya lama.”

Padahal menurut Ahmad Faridi, SP, Kepala Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, sarapan sangat baik dan penting bagi tubuh. Pada malam hari, saat tubuh istirahat, ternyata semua organ metabolisme tubuh tetap bekerja. Hingga ketika pagi datang, lambung sudah kosong dan butuh diisi lagi.

Bayangkan sebuah mobil dengan bensin yang terbatas atau bahkan kosong. Tentu tidak akan lancar saat dipakai. Begitu juga tubuh kita. Sarapan ibarat bensin yang menjadi ‘bahan bakar’ untuk beraktivitas. Tanpanya kita akan lemas, mengantuk, kurang konsentrasi dan performa tubuh turun.

 

Diet dengan sarapan?

Faridi menyatakan sarapan bermanfaat untuk jangka pendek dan jangka panjang. Sarapan itu, kata Ahmad Faridi, melancarkan metabolisme tubuh, meningkatkan kadar glukosa dalam darah dan otak, meningkatkan konsentrasi belajar, produktivitas kerja, kemampuan berpikir dan kemampuan fisik. “Sarapan juga membuat seseorang lebih sehat karena kadar hemoglobin tersedia dengan jumlah yang cukup dalam darah,” ujar lelaki yang akrab disapa Faridi ini.

Bagaimana dengan mitos sarapan bikin gemuk? Faridi mengilustrasikan teori “balas dendam”. Perempuan dewasa membutuhkan sekitar 2000 kalori setiap harinya. Jika dibagi tiga, yaitu untuk makan pagi, siang dan malam, porsinya menjadi 650 kalori tiap kali makan. Jika tidak sarapan, maka orang akan berusaha memenuhinya di siang hari. “Nah inilah yang sebenarnya menyebabkan balas dendam. Karena porsi makan siang yang terlalu banyak, ia pun berpotensi mengantuk. Dan, aktivitas setelah makan, seperti nonton TV, justru itu yang bisa bikin gemuk,” ujar bapak 2 anak ini.

Masih menurut Faridi, diet itu bukanlah tidak makan sama sekali seperti anggapan banyak orang. Tetapi mengurangi kadar kalorinya, dari 2000 menjadi 1500. Ini juga harus dihitung dan disesuaikan dengan berat dan tinggi tubuh. Jika tidak hati-hati obsesi tubuh kurus malah membawa penyakit. Ahli gizi dan dokter adalah dua orang yang harus ditemui ketika seseorang memutuskan untuk diet. Ahli gizi dapat menakar berapa kalori yang boleh dikonsumsi, sedangkan dokter untuk melihat kemungkinan terkena penyakit pascadiet. Nah, sarapan teratur membantu seseorang menyukseskan program dietnya.

Lalu bagaimana jika waktu kita cukup sempit di pagi hari hingga tak sempat sarapan? Faridi memberi solusi, sarapan dengan roti dan susu pun cukup, tidak harus makanan lengkap yang terdiri dari nasi, sayur, daging, buah dan susu.

Strategi lain adalah mengatur waktu sarapan. Saat yang paling baik untuk sarapan adalah pukul enam pagi, sebab proses metabolisme tubuh kita selesai kira-kira pukul lima pagi. Dengan mengatur jadwal, sarapan tentu bukan hal yang mustahil dilakukan.

 

Makanan untuk otak

Salah satu fungsi utama sarapan adalah memberi makanan ke otak. Faridi telah membuktikan saat meneliti 100 siswa SD di Jakarta Timur pada 2000 lalu. Ia meneliti keterkaitan sarapan dan konsentrasi belajar siswa. Hasilnya, anak yang rutin sarapan memiliki tingkat konsentrasi yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak.

Mengapa demikian? Karena otak membutuhkan suplai glukosa secara terus menerus. Saat kekurangan glukosa, otak akan mengalami kemunduran. Itulah sebabnya sarapan membantu bagian tubuh yang memiliki 100 juta sel saraf ini menjadi lebih cerdas, peka dan lebih mudah berkonsentrasi saat belajar dan bekerja.

Glukosa banyak terdapat dalam karbohidrat. Ahli gizi sepakat karbohidrat yang baik adalah karbohidrat kompleks seperti yang terdapat pada nasi, roti, mie, pasta dan tanaman berumbi seperti kentang singkong, dan ubi. Namun Faridi lebih menyarankan untuk mengonsumsi nasi saat sarapan pagi. “Nasi itu bisa bertahan 3-4 jam di lambung sedangkan roti biasanya dua jam saja,” imbuh pria yang aktif di LSM Aisyiyah itu.

Camilan, ringan tapi penting

Makanan ringan alias camilan antara makan pagi-siang dan makan siang-malam ternyata sangat penting buat tubuh. Fungsi camilan adalah menambah energi sebelum makan besar. Hal itu berguna terutama untuk mereka yang memiliki banyak aktivitas termasuk anak-anak. “Ini berlaku untuk semua orang sehat. Kalau orang punya penyakit maag hukumnya jadi fardu ain, karena lambungnya tidak boleh kosong,” gurau lulusan IPB ini.

Khusus untuk anak-anak, sebaiknya ibu menyiapkan makanan ringan dari rumah. Ini untuk mencegah mereka jajan sembarangan yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya. Repotnya, anak sering iri melihat temannya jajan. Nah, untuk menyiasati itu, ibu harus lebih kreatif menyiapkan variasi camilan yang menarik tapi menyehatkan.

Jika saat sarapan sudah dengan porsi berat, maka camilan yang bisa diberikan adalah yang ringan seperti kacang-kacangan atau buah. Namun jika sarapannya sedikit, tidak mengapa diberikan camilan seperti roti.

Makanan ringan terbaik adalah buah dan sayuran. Alasannya, buah hanya memiliki sedikit kalori sehingga tidak masalah jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, bahkan di luar waktu camilan, asal tidak berlebihan. Mengonsumsi buah sebagai camilan adalah saran dari banyak ahli gizi karena buah membantu metabolisme tubuh seperti memperlancar buang air besar. Selain buah, susu dan agar-agar juga bisa jadi camilan.

Firda Kurnia/Aini Firdaus wawancara: Firda Kurnia

taken from http://www.ummi-online.com/artikel-113-say-yes-to-breakfast.html

Aman dan Nyaman Dengan Obat Herbal

Tinggalkan komentar

Banyak iklan obat herbal berseliweran di sekitar kita. Untuk pelangsing, asam urat, maag, bahkan TBC. Hampir selalu diikuti embel-embel alami tanpa efek samping. Benarkah aman mengonsumsinya?

“Sudah hampir dua tahun ini saya rutin mengonsumsi madu, sari kurma dan habbatussauda. Alhamdulillah jarang sakit. Padahal aktivitas banyak, mengasuh anak, mengurus rumah tangga, tapi masih sempat buka usaha disain dan printing,” ujar Isti, ibu rumah tangga.

 

“Aduh, udah mulai bersin-bersin nih, berarti harus konsumsi habbat lebih banyak,” ujar Esthi, wartawan sebuah media di Jakarta.

Dua komentar di atas mungkin pernah Anda temui. Kini obat herbal memang makin populer. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya kedai atau toko yang menjualnya. Di majalah dan koran nasional pun mulai banyak perusahan yang mengiklankan obat ini. Masyarakat pun menyambut baik.

Namun, di sisi lain ada sebagian orang yang meragukan khasiat obat herbal. “Pengalaman saudara saya, minum air rumput fatima sebelum melahirkan, jadi heboh karena kontraksi berlebihan. Dapat ‘ceramah’ dari dokter deh,” ujar Febri, karyawan swasta

“Saudara saya juga sampai meninggal gara-gara minum ramuan herbal dari Sinshe. Ginjalnya enggak kuat karena ramuannya kental banget. Harusnya ramuan itu bisa untuk 10 gelas, tapi kata sinshe harus direbus sampai tersisa hanya untuk 1 gelas,” kata Ida, karyawan yang tinggal di Bekasi.

Mereka yang selama ini belum akrab dengan obat herbal tentu bertanya-tanya, jadi sebenarnya bagaimana sih obat herbal itu? Aman atau tidak? Benarkah tidak ada efek samping?

Klasifikasi Obat Herbal

Menurut Badan Peneliti Obat dan Makanan (BPOM), obat herbal dikelompokkan menjadi 3 jenis. Pertama, jamu, yakni obat tradisional dari tanaman obat yang asli, biasanya kita dapatkan dari resep nenek moyang. Misalkan jamu cabe puyang, beras kencur, dan lain-lain. Sudah dipakai secara turun temurun. Khasiatnya secara umum juga sudah diketahui. Namun belum ada penelitian ilmiah yang secara formal membuktikannya.

Kedua, herbal terstandar, yaitu jamu yang sudah melalui penelitian dengan hewan (uji preklinis). Jadi, khasiatnya sudah jelas, dosisnya berapa, toksisitasnya (kandungan racun) dan efek sampingnya sudah jelas.

Ketiga, fitofarmaka, yakni jamu yang sudah melewati uji preklinis pada hewan dan uji klinis pada manusia. Jadi aman dipakai karena sudah diteliti dokter.

Dengan demikian, apakah fitofarmaka yang paling aman dikonsumsi? Menurut dr Agus Rahmadi, Ketua Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (Aspetri), yang paling aman adalah yang paling fresh, tidak terkontaminasi dengan bahan-bahan kimiawi. Nah, fitofarmaka sendiri sudah ditambahi berbagai zat kimia.

Selain itu dengan alasan kepraktisan obat herbal juga dikemas dengan berbagai bentuk, seperti pil, kapsul tablet, puyer, dan sirup. Lantas, mana yang lebih aman dikonsumsi?

“Kalau bicara mana yang lebih efektif ya fitofarmaka karena sudah terisolat dan diuji. Kalau yang aman ya yang fresh, karena lebih natural dan banyak mengandung bahan yang diperlukan tubuh,” ujar Direktur Utama Klinik Sehat, Jakarta ini.

Aman Mengonsumsi Obat Herbal

Menurut Agus, obat herbal, khususnya jamu, cocok untuk orang dengan penyakit degeneratif yang menyebabkan penurunan fungsi tubuh. Seperti diabetes, hipertensi, kolesterol dan kanker. Sedangkan obat farmasi sangat bagus untuk kasus-kasus gawat darurat dan akut, misalnya saat kecelakaan.

Untuk kasus degeneratif, semua obat farmasi sifatnya hanya mengurangi gejala (simtomatik) sedang penyebab utamanya tidak diberantas. Obat herbal justru kebalikannya. Misalnya pada penderita diabetes, umumnya dokter akan memberikan obat penurun glukosa darah. Dalam beberapa kasus pasien juga akan diberi injeksi insulin.

Sedangkan obat herbal justru ‘memperbaiki’ pankreasnya. Logikanya, pankreas penderita diabetes bermasalah hingga tidak dapat menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah) atau insulinnya tidak mencukupi. Untuk memperbaikinya diberikanlah ‘makanan’ yang baik yaitu asam angrinin yang bersumber di kacang panjang, habbatussauda, dan pare. Dengan mengobati pankreas diharapkan insulinnya membaik.

Namun demikian, harus hati-hati dalam mengonsumsi obat herbal. Jika salah mengolahnya, akan berbahaya bagi kita. Sebab, tidak semua obat herbal itu aman. Contoh mahkota dewa, kalau salah mengolahnya akibatnya fatal. Mahkota dewa harus dikeringkan sampai benar-benar kering. Kalau tidak kering, malah beracun. Kalau kita langsung makan buahnya dapat menyebabkan kematian. “Makanya penggunaan obat herbal itu harus diberikan ke ahlinya seperti dokter dan apoteker,” kata ayah tiga anak ini.

Sebenarnya hampir semua bahan obat herbal tersedia di pasar. Karena sebagian besar penyakit rumah seperti sakit tenggorokan, demam, batuk pilek itu bisa diobati dengan bahan-bahan tersebut. Sakit maag, misalnya, dapat diobati dengan meminum air rebusan kunyit dan temulawak yang diparut. Namun perlu diperhatikan, kunyit dan temulawak yang digunakan harus pas takarannya.

Obat herbal, tambah Agus, juga memiliki efek samping jika penggunaannya berlebihan. Misalnya makan wortel terlalu banyak dapat menimbulkan warna kuning di kulit dan meningkatkan tekanan dalam otak karena betakaroten di lemak itu mengendap. “Makan cabai kebanyakan kita jadi mules-mules. Makan rambutan terlalu banyak juga bikin masalah,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, sambil menjelaskan herbal itu aslinya dari sayuran dan buah-buahan. Namun, jika digunakan secara proposional, itu sangat diperlukan oleh tubuh.

Penting juga bagi ibu hamil dan menyusui untuk berhati-hati dalam mengonsumsi obat herbal. Ibu hamil sebaiknya jangan minum obat-obatan herbal dan obat kimia karena bisa memengaruhi hormon. Demikian juga dengan bayi. Agus menyarankan untuk tidak memberikan herbal pada bayi usia 0-1 tahun. Sebab masa itu adalah masa pertumbuhan yang membuat daya tahan bayi belum kuat. “Kalau untuk bayi yang masih menyusui ya ibunya yang minum obat herbal itu,” ujar Agus.

Aini Firdaus/wawancara: Firda Kurnia

 

taken from http://www.ummi-online.com/artikel-90-aman-dan-nyaman-dengan-obat-herbal.html

Skill

Tinggalkan komentar

Skill is automaticcaly without thinking. (Teguh Handoko)

Khasiat Jahe Merah

Tinggalkan komentar

Jahe merah (Zingiber officinale Roxb. var Rubra.) atau Zingiberaceae Officinale Roscoe atau Zingiberaceae Officinale Rose adalah tanaman herbal semusim, tegak, tinggi 40-50 cm. Batang semu, beralur, membentuk rimpang, warna hijau. Daun tunggal, bentuk lanset, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, warna hijau tua. Bunga majemuk, bentuk bulir, sempit, ujung runcing, panjang 3,5-5 cm, lebar 1,5-2 cm, mahkota bunga bentuk corong, panjang 2-2,5 cm, warna ungu. Buah kotak, bulat panjang, warna cokelat.

Kebanyakan literatur yang ditulis tentang jahe merah tercampur dengan jahe putih (jahe gajah) dan jahe kuning (jahe yang biasa dipakai untuk masakan). Hal tersebut tidak terlalu mengherankan mengingat ketiga macam jenis jahe tersebut mempunyai nama latin yang hampir sama yaitu sama-sama diawali dengan Zingiberaceae Officinale. Selain itu, ketiga jenis jahe tersebut memiliki kandungan yang hampir sama tapi dengan konsentrasi yang berbeda.

 

Khasiat jahe merah

Sebagai bahan obat tradisional, jahe merah banyak dipilih karena memberikan rasa pahit dan pedas lebih tinggi dibanding jenis jahe lain yang tentunya menambah khasiat yang lebih lagi dari jenis jahe yang lain. Karena itulah ia sangat cocok untuk dijadikan bahan dasar farmasi dan jamu.

 

Rimpang jahe merah berukuran paling kecil dibandingkan dengan jenis jahe lainnya, berwarna merah, dan mengandung minyak asiri tinggi yang terdiri dari zingeberin, kamfena, lemonin, zingiberen, zingiberal, gingeral, dan shogool. Kandungan lainnya, yakni minyak damar, pati, asam organik, asam malat, asam aksolat, dan gingerin.

 

Jahe merah lebih dikenal berkhasiat sebagai pencahar, antirematik, dan peluruh masuk angin. Khasiat umumnya menghangatkan badan, penambah nafsu makan, peluruh keringat, serta mencegah dan mengobati masuk angin. Karena pengaruh inilah orang cepat merasa bugar dan gairah seksnya segera memuncak alias makantar-kantar.

 

Di samping itu, juga berguna untuk mengatasi radang tenggorokan (bronkitis), sakit pinggang, lemah syahwat, meningkatkan stamina, meredakan asma, mengobati pusing, nyeri otot, ejakulasi dini, dan amandel.

 

Jahe merah digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional China. Dikatakan bahwa ia adalah pengobatan Yang dan sangat mendukung limpa kecil, perut/lambung dan ginjal (terutama untuk pria dan juga diklasifikasikan sebagai aphrodisiac/zat perangsang dan pengobatan yang baik untuk impotensi)

 

Dalam pengobatan Arab, jahe merah dikatakan sebagai panas dalam derajat kedua dan lembab dalam derajat kesatu. Ia menghangatkan dan mempunyai efek melembutkan perut, juga berguna bagi tubuh terhadap masalah pencernaan seperti kembung, keracunan makanan, dan sembelit.

 

Jahe merah memegang peranan penting dalam dunia pengobatan Barat seperti halnya dalam dunia pengobatan Timur (China, Jepang dan India) Ia bisa digunakan sendirian atau sebagai bahan campuran dalam resep herbal dan juga dipakai sebagai “penyembuhan koreksi” terhadap efek yang tidak diinginkan dari tumbuhan lain. Telah dibuktikan dalam riset terakhir bahwa jahe merah mempunyai kandungan yang unik yang dapat membantu pengobatan lain menjadi lebih baik diterima dan diserap tubuh.

 

Walaupun jahe merah tidak pernah diteliti dalam pengobatan asma, menurut DR. Suwijiyo Pramono –ahli fitofarmaka dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta– “…kemungkinan rasa hangat karena kandungan minyak asiri itulah yang menyebabkan rasa lega bagi penderita asma.”

 

“Pada dasarnya jahe merah tidak memiliki kandungan zat yang bersifat bronko splasmolitika (zat pelega saluran napas). Kemungkinan lain efek antihistamin pada jahe yang menyebabkan asma mereda”, tutur doktor fitokimia lulusan Universitas Toulose, Prancis itu.

 

Namun, bagi Anda penderita asma sekaligus maag, sebaiknya menghindari konsumsi jahe merah. “Karena gingerolnya bisa bikin lambung panas dan iritasi,” ujar dosen Fakultas Farmasi UGM ini.

 

Beberapa khasiat penyembuhan jahe merah yang disebutkan oleh pelbagai web site:

Migrain, pusing-pusing, melancarkan peredaran darah, memperbaiki pencernaan, perut kembung, memecah gas dalam perut, encok & pegal linu, masuk angin, dan influenza.

Beberapa khasiat jahe merah yang masih harus dibuktikan karena tampaknya terlalu fantastis:

Viagra alami, merangsang keluarnya air susu ibu, mendorong produksi getah bening, menjaga kekebalan tubuh, mencegah kemandulan dan memperkuat daya tahan sperma. Unsur farnesal yang terkandung dalam tanaman ini juga mampu mencegah proses penuaan karena merangsang regenerasi sel kulit.

 

sumber:http://artikelmu.com/?p=263

Older Entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.