Negeri Abadi untuk Anak-anakku

1 Komentar

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

Catatan:
– Lima Poin Pendidikan Anak: -1.Paradigma sukses-2.Mengenal Tahapan dan Sifat-3.Metode-4.Isi-5.Target.
– Buku Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) diterjemahkan dengan judul “Sistem Pendidikan Islam” terbitan Al-Ma’arif Bandung, dan buku Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam) diterjemahkan dengan judul Pendidikan Anak Dalam Islam.

(ambil artikel dari eramuslim.com. Benteng Terakhir, thanks ya mba Aisyah Nurmi..)

Ibunda para Ulama

Tinggalkan komentar

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Waqi’ bahwa ibu Sufyan Ats-Sauri berkata kepada Sufyan, “Wahai anakku carilah ilmu dan aku akan mencukupi kebutuhanmu dengan gelendong (alat pemintalan) milikku ini.”

Beliau juga pernah berpesan, “Wahai anakku, apabila kamu telah menulis sepuluh huruf, maka lihatlah dirimu, apakah rasa takut, kelemahlembuatan, dan ketenanganmu semakin bertambah? Jika hal itu tidak ada pada dirimu, ketahuilah berarti apa yang kamu pelajari itu membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu.”

Dinukil dari Menjadi Istri Penuh Pesona dari Shifatush Shofwah, Ibnul Jauzi:1/320, karangan Imad Al-Hakim

Ketika Kami membincangkan Poligami

2 Komentar

Saya menemukan majalah Ummi edisi lama. Di rubrik Dunia Wanita ada artikel mengupas poligami berjudul “Surat Terbuka Untuk Rekan-rekan Muslimah” kiriman Zuliani D, SE, dtaff pengajar Fakultas Ekonomi UI.

Ya! Sebuah pandangan baru lagi tentang hikmah poligami, bahwa lelaki mampu mencintai lebih dari seorang perempuan dalam waktu yang bersamaan. Lelaki akan lebih mudah menerima kekurangan dan juga kelebihan setiap istrinya, sehingga dapat lebih bersyukur.

Dulu, sebelum menikah saya pernah berkata pada calon suami saya, setiap orang memilki tempat masing-masing di hati kita, tempatkan saja pada posisinya. Saya berkata demikian karena menyadari betul bahwa kita tidak bisa menggeser posisi masing-masing orang tersebut. Jujurlah, maksimalkanlah potensi yang ada. Berkontribusilah pada jalurnya semampunya.

Tidak ada satu hukum pun yang diturunkan Alloh kecuali untuk menegakkan keadilan. Maha suci Alloh atas sunnah kauniy dan sunnah syar’iy.

Dhuha, 2 Muharram 1429H

Insyalloh someday…

Tinggalkan komentar

Insyalloh someday…

Tegaklah badan ini di atas kakinya sendiri

Insyalloh someday…

Terwarnailah ia dengan warnanya sendiri

Insyalloh someday…

Jelaslah di mana ia dan siapa ia

…….

Entahlah apa yang terjadi kini di alam fikir dan hatiku

Dulu semangat itu demikian menyala, kini redup

Apakah aku mulai jenuh?

Padahal perjuangan ini masih jauh..

Apakah ini wujud ketidakbersyukuranku?

Padahal nikmatnya tak kunjung putus

Apakah ini wujud ketidakberdayaanku atas prasangka?

Segala puji bagiMu Robbi..

Ketidaksabaran…hhh..lagi-lagi itu

Bumi Alloh, 13 Sya’ban 1429H 15 Agustus 2008,

dlm perjalanan yang baru saja dimulai, dalam harapan yang baru saja diazzamkan, dalam penantian atas otoritas dan eksistensi yang baru saja dicanangkan

Sungguh dunia hanya sebentar saja…

The Beauty of Music

Tinggalkan komentar

Musik. Begitu melenakannya. Entah apa jadinya jika tidak ada peringatan dan penjelasan. Sekiranya mereka tahu kita tidak akan mengapa tanpa musik, kemudian menseharikan tilawah dan murottal, dimana tiap keluar kalimat adalah senandung ayat-ayatnya juga nasyid penyemangat jihad, niscaya kembalilah manusia pada tataran yang sebenarnya, mulia dan terhormat. Ya Alloh lindungilah kami dari fitnah musik. Amin.

Biokimia C (lab ful music) 16 romadhon 1428 H

Aliranku

Tinggalkan komentar

Seseorang yang amat saya cintai mengomentari aliran saya lantaran melihat saya pada posisi menangguhkan aliran. Dia menulis untuk saya,..”Pada hari-hari yang meniadakan cita-cita.” (Thanks to much honey, I love U!) Dia tidak sepenuhnya salah menilai saya, tapi saya menilai kalimatnya juga tidak sepenuhnya benar. Saya ingin berkata padanya, “Sayangku aku tetap mengalir…meski aliran itu mungkin hanya dirasakan oleh diriku seorang. Aku tahu kamu lebih tahu dariku saat berbicara tentang realitas zaman, zaman yang arus alirnya bertentangan dengan arus yang kita perjuangkan . Sementara kini antara aku dan zaman hanya dibatasi oleh selaput tipis yang mudah koyak. Ibarat telur di ujung tanduk. Doakan aku sayangku agar terhindar dari fitnah zaman. Agar aku mampu menderaskan aliranku. Aku tahu kamu mencintaiku. May Alloh love you.”

Ya. Demikianlah saya dan aliran saya menuju grand design masa depan saya. Tetaplah mengalir dan tingkatkan kekuatan aliran. If the best is excellent, good is not enough!! Ya Hayyu ya Qoyyum birohmatika astaghitsu ashlihli sa’ni kulluhu wala takilni illa nafsi thorfata’ain.

Belajarlah pada air yang mengalir, meski dengan aliran yang kecil, tapi ia bergerak dan bermanfaat. Saya bertekad untuk senantiasa daam kondsi itu. Flow. Mengalir. Baik deras, sedang, bahkan kecil.

Senantiasa mengalir adalah konsekuensi konkrit dari sebuah pencapaian. Bagi saya apa yang saya sudah canangkan adalah sebuah grand design masa depan. Masa depan yang sudah saya perhitungkan -dengan kedangkalan ilmu yang saya punya- paling ideal untuk saya dan orang-orang yang saya cintai. Maka saya mengingatnya setiap pagi dan berbisik, aliran seperti apa yang akan saya lakukan hari ini? Saya menjawab segera, aliran seperti ini, itu, ini. Meski seringkali aliran itu tersendat-sendat malah bahkan berhenti (tapi karena saya memiliki naluri untuk membela diri, saya berujar dalam hati, secara konkrit aliran itu memang berhenti, tetapi pada tataran ide dan semangat, ia tetap membara!!)

kamis, 31 januari 2008/Muharram 1429 H

Agar Bahtera Tak Tenggelam part1

Tinggalkan komentar

Sahabat Abu Darda berkata pada istrnya, “Jika aku marah, engkau janankut marah, kalau kamu marah, aku akan berusaha untuk tidak marah,sebab, jka kita sama-sama marah, alangkah cepatnya perpisahan kita.”

Older Entries