Seseorang yang amat saya cintai mengomentari aliran saya lantaran melihat saya pada posisi menangguhkan aliran. Dia menulis untuk saya,..”Pada hari-hari yang meniadakan cita-cita.” (Thanks to much honey, I love U!) Dia tidak sepenuhnya salah menilai saya, tapi saya menilai kalimatnya juga tidak sepenuhnya benar. Saya ingin berkata padanya, “Sayangku aku tetap mengalir…meski aliran itu mungkin hanya dirasakan oleh diriku seorang. Aku tahu kamu lebih tahu dariku saat berbicara tentang realitas zaman, zaman yang arus alirnya bertentangan dengan arus yang kita perjuangkan . Sementara kini antara aku dan zaman hanya dibatasi oleh selaput tipis yang mudah koyak. Ibarat telur di ujung tanduk. Doakan aku sayangku agar terhindar dari fitnah zaman. Agar aku mampu menderaskan aliranku. Aku tahu kamu mencintaiku. May Alloh love you.”

Ya. Demikianlah saya dan aliran saya menuju grand design masa depan saya. Tetaplah mengalir dan tingkatkan kekuatan aliran. If the best is excellent, good is not enough!! Ya Hayyu ya Qoyyum birohmatika astaghitsu ashlihli sa’ni kulluhu wala takilni illa nafsi thorfata’ain.

Belajarlah pada air yang mengalir, meski dengan aliran yang kecil, tapi ia bergerak dan bermanfaat. Saya bertekad untuk senantiasa daam kondsi itu. Flow. Mengalir. Baik deras, sedang, bahkan kecil.

Senantiasa mengalir adalah konsekuensi konkrit dari sebuah pencapaian. Bagi saya apa yang saya sudah canangkan adalah sebuah grand design masa depan. Masa depan yang sudah saya perhitungkan -dengan kedangkalan ilmu yang saya punya- paling ideal untuk saya dan orang-orang yang saya cintai. Maka saya mengingatnya setiap pagi dan berbisik, aliran seperti apa yang akan saya lakukan hari ini? Saya menjawab segera, aliran seperti ini, itu, ini. Meski seringkali aliran itu tersendat-sendat malah bahkan berhenti (tapi karena saya memiliki naluri untuk membela diri, saya berujar dalam hati, secara konkrit aliran itu memang berhenti, tetapi pada tataran ide dan semangat, ia tetap membara!!)

kamis, 31 januari 2008/Muharram 1429 H