Ini cerita lama, namun terus saja berulang…

…….

Di satu kesempatan seorang kawan berkata, “Alhamdulillah Ukh, akhirnya saya ketemu juga dengan akhwat salaffiyin..”

Di lain kesempatan lagi, “Tanya aja sama Ustadz-ustadz salafi..”

Di lain kesempatan lagi dua orang kawan bercakap; “Akh, coba deh datang di diskusi sabtuan INSIST.. insyaLLoH bagus!” Yang diajak bertanya, “Nyunnah ga?” . ‘ng….’, yang bertanya berpikir sejenak, “celananya sih ada yang ngatung ada yang ngga…” Weww..

Ada lagi sebutan-sebutan kontemporer : ”’salafi proto (pro thogut),,,”’salafi jihadi,,,

Ah…..ungkapan-ungkapan itu, penyebutan-penyebutan itu, apa…coba!

Kenapa ya..kalo sdg duduk bareng, mendudukkan penyebutan pada posisi yang sebenarnya, kita kembali pada teori yang benar. Namun, pada praktik dan keseharian…ungkapan-ungkapan itu, penyebutan-penyebutan itu seringkali mengeksklusifkan kita.

Saya jadi ingat masa-masa otak ini penyok..semasa SMAKBO dulu. Saya dan sahabat saya pusing bukan kepalang menghadapi realita pluralitas gerakan, konsep, manhaj, thoriqoh. Blum lagi komentar orang-orang, yang satu bilang gerakan ini begini, yg satu bilang mereka salah dalam menetapkan ini dan itu, mereka mah omdo, dll dll… Akhirnya, di satu perjalanan menuju BSN (Badan Standar Nasional), saya bilang udahlah sekarang mah tutup kuping dulu sama omongan orang..kita mengikuti kajiannya dulu ajah, nanti silahkan menimbang..

Dari sini saya mulai tidak suka menilai seseorang dgn “jaketnya”, baru berani menilai setelah membaca buah pikirnya. Entah tulisan, lisan, maupun keseharian. Kecuali untuk pemetaan secara umum. Inipun saya simpan dalam hati, khawatir salah. Saya juga tidak suka melabeli seseorang, kecuali untuk yg benar-benar sesuai. Apalagi label syar’i yang berkonsekuensi berat, antara manhaj dan di luar manhaj.

Ungkapan salafi atau pertanyaan, ‘nyunnah ga?’ misalnya. Nantinya akan berlanjut, dia bukan salafi dia mah PKS, dia mah HT, dia mah NII, dia mah ga nyunnah.. Nah lho! Bukankah ini berkonsekuensi berat, mengeluarkan seseorang dari manhaj? Padahal, dudukkanlah pada posisi yang sebenarnya, apa itu salaf, apa itu pks, apa itu ht. Klo seorang Ustadz bilang, salafi apa? manhaj atau kurun?

Malah klo si ‘dia’ yang katanya bukan salafi dan ga nyunnah, justru diajaklah untuk nyallaf dan nyunnah, mengenal dien ini dgn pemahaman salafussholih.

Ah entahlah, tiba-tiba saja kelu. Saya semakin segan saja menggunakan sebutan-sebutan itu.

Ba’da sahur, 3 Romadhon 1429