Belajar dari anak-anak? Kenapa tidak? Mungkin ini salah satu prinsip belajar yang tidak boleh dilupakan, agar kita bisa mengambil hikmah dari siapapun dan kapanpun, termasuk dari pengalaman anak-anak.

Berawal dari keprihatinan akan kurangnya sentuhan khas Ramadhan di rumah-rumah keluarga muslim Indonesia yang hidup di luar negeri, terutama di Jerman, Divisi Kewanitaan Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera di Jerman (PIP PKS Jerman) merancang sebuah acara untuk anak-anak di bulan Ramadhan. Acara ini diberi nama Kinder Erzählen, yang artinya kurang lebih ‚Anak-Anak Bercerita’. Uniknya acara ini dibuat live online melalui radio internet Suara Keadilan (http://keadilan-jepang.org/listen.pls), agar dapat menjangkau seluruh masyarakat muslim Indonesia yang tersebar di seluruh Jerman, bahkan juga di negara lain, dan supaya bisa mengatasi kendala waktu dan jarak yang tidak memungkinkan pertemuan fisik yang intens.

Di acara ini beberapa anak bergantian menceritakan pengalaman mereka menjalankan Islam di Jerman. Target pendengarnya anak-anak juga. Tujuannya agar anak-anak Muslim Indonesia yang hidup bersama orangtuanya di Jerman tidak merasa ’sendirian’ menjalani Islam, meskipun mereka hidup sebagai minoritas, dan mungkin menjadi satu-satunya anak Muslim di sekolahnya. Juga dengan acara ini, anak-anak ini diharapkan jadi lebih terpapar pada kehidupan dan kebiasaan Muslim di bulan Ramadhan, yang hampir tidak tercermin dalam kondisi masyarakat Jerman secara umum.

Kisah mereka tentu saja unik, karena diceritakan dari perspektif anak-anak dan dengan bahasa anak-anak. Tema-tema yang diangkat dalam acara yang diadakan setiap hari Sabtu dan Ahad pukul 11-12 siang waktu Jerman (pukul 16-17 WIB) juga beragam dan disesuaikan dengan usia pendengarnya. Tema yang diangkat misalnya pengalaman puasa pertama, pengalaman shalat tarawih di masjid, belajar di Qur’an Schule (seperti TPA di Indonesia), menghafal Juz ’Amma, dan memilih makanan halal. Tema-tema ini sepertinya mungkin sepele, apalagi di telinga orang dewasa yang sudah terbiasa melakukannya. Tapi mendengarnya dari anak-anak, ternyata memberikan kesan tersendiri.

Ada Ja’far yang menceritakan pengalamannya shalat tarawih di berbagai kota di Jerman, karena ia mengikuti orangtuanya yang beberapa kali pernah berpindah tempat tinggal. Lalu ada juga Maryam dan Steffen, yang menceritakan bagaimana pengalaman mereka belajar Al Qur’an. Maryam bercerita tentang guru-gurunya yang ramah, suka memberi hadiah, mengajak bermain dan jalan-jalan, serta teman-teman multinasionalnya di Qur’an Schule. Sementara Steffen, yang terlahir dari ayah muallaf asli Jerman dan ibu asal Medan, menceritakan pengalamannya menghafal Juz ’Amma.

Jangan dikira mudah menjadi anak Muslim yang sedang belajar menjalankan Ad-Dienullah di lingkungan yang mayoritas bukan Muslim. Nesha, salah satu pembicara di acara Kinder Erzählen ini misalnya, menceritakan pengalaman puasa pertamanya di Jerman. Gadis kecil kelas dua Grundschule (sekolah dasar) ini menceritakan bagaimana wali kelasnya pernah menelepon orangtuanya karena pihak sekolah menganggap puasa menjadi penghalang aktivitasnya di sekolah. Dengan dukungan semangat dari orangtuanya yang juga berusaha menjelaskan pada pihak sekolah, Nesha tetap bertahan puasa sehari penuh sampai sekarang.

Ada lagi kisah Fadhilla, anak perempuan berusia sepuluh tahun yang sejak belum genap berusia tujuh tahun telah mengenakan jilbabnya ke sekolah. Fadhilla yang menjadi satu-satunya murid berjilbab di kelasnya menceritakan bagaimana dia pernah tidak dibolehkan mengikuti Bundesjugendspiele (penilaian keterampilan berolah raga yang diadakan serempak di sekolah dasar dan menengah di seluruh Jerman) karena jilbabnya. Guru olahraganya melarang dengan alasan berbahaya jika jilbabnya tertarik atau tersangkut dari belakang dan bisa membuatnya tercekik dan tidak bisa bernafas. Lagi-lagi lobi orangtualah yang menyelamatkan. Fadhilla akhirnya dibolehkan ikut acara tersebut dengan tetap berjilbab. Dia bahkan bukan saja membuktikan kalau jilbabnya sama sekali tidak membahayakan dirinya saat olahraga, tapi juga menjadi salah satu yang mendapatkan hasil terbaik dan mendapat sertifikat yang ditandatangani sendiri oleh Presiden Jerman Horst Köhler.

Cerita Afra lain lagi. Afra menceritakan pengalamannya memilih makanan halal. Memang tidak seperti di Indonesia, bagi mereka yang tinggal di luar negeri memilih makanan halal membutuhkan kecermatan tersendiri dan menjadi sejenis ’life-skill’ yang perlu ditularkan pada anak. Afra menceritakan bagaimana orangtuanya mewanti-wanti agar ia hanya makan makanan vegetarian dan ikan jika berada di sekolah dan juga bila memenuhi undangan teman-temannya, misalnya pada pesta ulang tahun.

Kebanyakan pembicara menyampaikan kisahnya dalam bahasa Jerman, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mendengar anak-anak ini berbahasa Indonesia pun rasanya seperti mendengar bahasa Indonesia ’kumpeni’ di film-film perjuangan kemerdekaan Indonesia. Maklumlah, kebanyakan mereka memang belajar membaca dan menulis pertama kali dalam bahasa Jerman dan hanya menggunakan bahasa Indonesia di rumah dengan orangtuanya.

Para pendengar acara ini juga bisa bertanya atau memberi komentar dalam sesi tanya jawab melalui Yahoo Messenger Conference. Cukup menarik menyimak tanya jawab mereka, karena tidak jarang anak-anak ini memiliki pengalaman yang mirip sebab sama-sama hidup di lingkungan non-muslim, sehingga acara tanya jawab ini juga bisa menjadi  sarana bertukar pengalaman.

Meskipun awalnya ditujukan sebagai acara anak, ternyata ada juga pendengar acara Kinder Erzählen  ini yang orang dewasa. Para pendengar dewasa ini terdiri dari para orangtua yang mendampingi anak-anaknya mendengarkan dan juga orang dewasa yang kebetulan tertarik dengan cerita si anak, karena ternyata orang dewasa pun bisa belajar dari pengalaman anak-anak ini, misalnya dari pengalaman Steffen menghafal Juz ’Amma. Beberapa pendengar dewasa juga mengajukan pertanyaan bukan pada anak yang menjadi pembicara tapi kepada orangtua si pembicara yang juga mendampingi anaknya mengisi acara. Pertanyaan pada orangtua pembicara biasanya berkaitan dengan cara mendidik anak dan mengenalkan Islam pada anak.

Jadi, belajar dari pengalaman anak-anak, kenapa tidak? Bukankah hikmah itu milik orang Muslim? Di manapun ia menemukannya, maka ia berhak untuk mengambilnya.

diambil dari eramuslim.com kiriman: Titut Pratomo