Jika Anda memiliki anak berusia 3-4 tahun, mungkin tidak aneh melihatnya mengoceh setiap saat. Mereka juga sangat suka mengajukan pertanyaan.

Jika mereka tidak bertanya, maka berarti mereka sedang menyanyi atau bersenandung, atau berhitung atau menceritakan kembali dongeng atau pengalamannya.

Apabila mereka tidak melakukan satu hal diantaranya, berarti mereka sedang sibuk merangkai kalimat dari kata-kata yang dibuatnya sendiri.

Sayangnya, ocehan yang keluar dari mulut mungil mereka baru satu arah. Pasalnya, sebagian besar anak usia 3-4 tahun belum menguasai kemampuan berkomunikasi dua arah.

Ahli bahasa atau patologis, Janice Greenberg memaparkan, anak usia 3-4 tahun memang sudah memiliki sebagian dari kemampuan berbahasa. Mereka juga sudah belajar bercakap-cakap dengan orang lain meskipun masih sangat awal.

“Bisa jadi mereka ingin meyakinkan diri untuk menarik atau menjaga perhatian orangtua sebagai menjadi alasan mereka berbicara sepanjang hari,”

Untuk mengajarkan anak usia 3-4 tahun mendengar sama halnya dengan berbicara, lanjut Greenberg, orangtua harus melakukan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai hal itu menurunkan semangat anak, terutama karena mereka sangat tertarik berbicara terutama kepada orangtuanya.

Sementara kemampuan bicara dan berbahasa anak harus didukung, orangtua juga harus ingat pentingnya anak untuk memperingatkan anak bahwa menginterupsi pembicaraan orang lain sangat tidak pantas.

“Kita harus memberitahu anak mengenai aturan sosial yang mengatur kapan kita bicara atau diam. saat kita diam, maka giliran oranglain untuk bicara,” ujarnya.

Orangtua juga seharusnya mengajarkan cara yang tepat untuk anak memotong pembicaraan, terutama saat dia ingin mengatakan sesuatu yang penting. Dia juga harus belajar menunggu saat yang tepat.

“Ajarkan untuk mengatakan, maaf. kemudian tunggu perhatian orang yang diajak bicara kemudian barulah memulai mengungkapkan pernyataan. Hal itu sudah dapat dipelajari anak usia 3-4 tahun,” ujar Greenberg.(theparentreport.com/ri)