Dilema itu. Lagi dan lagi, kerapi terjadi setiap kali sekolah itu meluluskan siswanya. Sekolah itu, sekolah bergengsi di wilayah Bogor, Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor. Tempat dimana para siswanya dididik dan dilatih untuk menjadi tenaga analis kimia yang handal, siap memasuki dunia kerja ketika lulus. Khususnya dunia industri-bukan dunia mommy seperti yang saya lakoni di rumah sekarang, hehe..-. Memang dari hymne nya saja para lulusan dipersiapkan untuk menerjuni sektor industri. Kuterjuni sector industri….kuraih sejahtera negeri…negeri…

Saya pikir tidak menjadi masalah jika kemudian yang bersekolah disana adalah anak laki-laki yang memang harus dipersiapkan skillnya untuk mencari nafkah. Meski tetap harus –menurut saya- mempelajari dulu bagaimana seluk beluk sektor industri yang akan diterjuninya.

Yang sekedar curhat nih, sampai sekarang saya masih ragu atas keabsahan atas berdirinya pabrik-pabrik raksasa, baik rasa kemanusiaan saya atas keanehan sistem perburuhan, sistem shift yang suka sampai tiga shift, produksi yang kejar target, sistem permodalannya, hh…terlalu banyak memakan korban sodara-sodara!

Begitu juga jika saya sangkutkan dengan pemahaman Islam saya yang masih semenel. Adakah dalam Islam pekerjaan semacam itu, yang sampai merubah banyak manusia menjadi skrup-skrup mesin pabrik raksasa? Yang menjadikan para ayah terlalu lelah untuk memimpin keluarganya? Yang menjadikan anak para petani tidak mengerti lagi bagaimana cara menanam padi? Yang membuat perempuan-perempuan meninggalkan surganya di dunia dan bercampur baur dengan kaum pria? Yang memanfaatkan naluri kesabaran dan ketelatenan perempuan untuk barang-barang ekspor berskala container? Mengapa sepertinya para pemlik kapital-kapital itu hanya mengejar laba dan laba? Ya., sampai saat ini saya masih mempelajarinya. Bagaimana seharusnya perindustrian itu dikelola, sehingga tetap mencukupi hajat hidup manusia tanpa membuat tatanan manusia itu binasa. Berlebay? Ah, tidak juga…

Btw, balik lagi tentang dilema. Dilema ini dialami oleh saya, kawan-kawan yang seangkatan dengan saya, dan adik-adik kelas saya yang baru lulus Juli-Sept 2008 kemarin, yang semuanya perempuan. Entahlah kalau dilema ini terjadi juga dengan senior-senior saya.

Rata-rata kami memasuki sekolah itu dengan berbagai harapan untuk kehidupan yang lebh baik ke depannya, terutama kehidupan financial. Saya pun demikian, termotivasi oleh Ayah yang melihat Teteh anak tetangga sekarang sudah kerja dengan gaji dua juta dan tawaran-tawaran bekerja over seas (untuk ukuran seorang gadis lulusan setaraf SMA cuma lebih setahun-coz di skul saya kami sekolah sampai 4 tahun- waktu itu saya SD kelas 6, tahun 1998), menggiurkan. Apalagi kehidupan financial kami tergolong menengah kebawah.

Saya timbang-timbang-dengan timbangan anak SMP-, saya mengiyakan dan ikut ujian masuk. Saya lulus. Keluarga bersuka cita, sampai Uwak saya bilang, ”Akhirnya ada juga cucu Pak Haji Abdulloh yang masuk SMAKBO”. He..bangga dulu mah, sekarang alhamdulillah, semua takdir Alloh pasti baik. Kita ambil saja segudang hikmahnya. Setelah empat tahun berjibaku dengan rumus-rumus kimia, jadwal praktikum yang asoy, laporan-laporan praktikum yang banyak ngarangnya (coz, kata temen saya, klo ga bisa ngarang, ngor*ng ajah! Sstt..rahasia ya!), ngatur waktu, ngatur uang, ngatur cucian, coz saya ngekos, ditambah lagi kegiatan ekskul saya yang diblacklist sama sekolah (dulu saya ikutan parpol pembebasan internasional, ikutan demo, semangat bangat lagi), pffuuiih…what a hard four years…but it’s absolutely left me a lot of colors..

Singkat cerita, saya lulus. Bingung. Di masa menunggu wisuda inilah dilema itu berkecamuk, every day, every night, every in my pray.. Sebagaimana harapan keluarga yang demikian besar pada saya, anak pertamanya, dengan 5 adik yang berderet-deret seperti pagar (luv luv luv muah muah muah my bro-s and sis-s!! barokallohufikum!!), terlebih mengingat prestasi saya yang lumayan semasa skul, maka dorongan keluarga untuk segera melanjutkan pendidikan dan pelatihan yang dibayar alias kerja sesuai jurusan pun terasa begitu kuat.

Ya..saya pun sangat ingin berbakti, menyenangkan hati Mamah, Ummi, dan Abi.

Surat lamaran saya tebar. Namun, dengan berusaha hati-hati memilih pabrik. Dan mempersiapkan tameng saat nanti masuk ke sector industri itu. Saya ga mau kerja tanpa jilbab, kudu bergamis sampai nutupin kaki ga ngatung, ga mau di industri farmasi (coz mikirnya dulu tuh disana banyak pemakaian alcohol sebagai bahan pelarut obat), nyari lowongan di lab mikrobiologi yang cenderung sepi dan kebanyakan perempuan, jadi ga campur baur sama laki-laki, produk pabrik harus halal, jarak dekat yang ga safar, perjalanan juga suka bkin pusing, palagi naik bis kota iiiy..padat, mepet, kasenggol-senggol amit-amit, dan benturan-benturan lainlah pokoknya. Repot!

Karena ternyata lowongan dan interview2 banyak yang tidak sesuai criteria, saya nyoba magang di Perkebunan Bibit Cibubur, maksudnya belajar cocok tanam buat bekal mengembangkan tanaman herbal, buka lesan bahasa Inggris, ngajar TK punya sepupu, les tataboga, nerusin les bahasa Inggris, belajar bekam, dll. Ini saya lakukan supaya tetap move dan up to date. Dari kegiatan di masa menunggu kerja sesuai criteria inilah, muncul ketertarikan saya pada dunia kesehatan (cita-cita saya kecil kan jadi dokter..) yang saya lihat banyak manfaatnya, saya menekadkan untuk menekuni thibbun nabawiy, herbal, karena rasanya ga mungkin ngambil kuliah kedokteran. Terlampau mewah.

Dalam masa itu tetap dilema tak pernah surut, rasanya semua orang di rumah bahkan tetangga yang juga keluarga sangat menyayangkan ‘nganggur’nya saya dari dunia industri. Blum lagi di masa ini ada seorang Akhi yang datang hendak melamar. Belum lagi saat itu masa-masa pemahaman keislaman saya mendapat guncangan, penyok otak saya waktu itu, masa-masa saya merestart lagi paham-paham yang terlanjur nempel, nanya ke sana kemari, tentang harokah ini, itu, gerakan ini, itu, ngaji ke sini, situ, baca ini, itu. Dan ini butuh uang temans!

–teriring rindu untuk saudari-saudariku, musrifah-musrifahku, dan mas’ulahku yang super bijak, Mba Amel..semoga Alloh menjagamu., kehangatan itu sudah tercipta, namun aku harus memilih warnaku karena setiap kita dilahirkan seutuh dirinya sendiri, demikian pula adanya eksistensi-

Yup, ada panggilan lagi, Lab Mikrobiologi, pabrik minuman kemasan dan air mineral. Saya coba. Deng! Hari kedua kerja saya minta resign! Cuma berhasil kerja 4 hari. Ikhtilat…kerja rodi… Tinggal ajah my beloved Ummi kebingungan lihat saya, ‘Kenapa sih..kok ribet banget…’ gitu.katanya.

Datang tawaran kerja silih berganti, interview2 saya lakukan. Tetap mengecewakan. Sampai seorang bapak HRD yang menginterview saya bilang, di industri mana bisa kaya kamu… Meski akhirnya saya diterima juga di pabrik itu, tapi saya batalin..sorry so much Sir! Untuk pembatalan ini mamah saya komen agak pedas. Sabar..sabar..

Akhirnya dapat tawaran di LIPI, out sourcing. Ya, saya mau. Kerjanya ngegrup, perempuan semua. Sebulan kerja saya minta izin ma Bos pake cadar. Boleh. Alhamdulillah. Di sini nih saya dapat jobdesk yang ga jel. Super nyantai, g jelas, tumpang tindih. Sampai banyak yang ngiri grup out sourcing yang lain.

Sebagaimana kerjaannya yang santai, gajinya pun santai. Cuma cukup buat sendiri, blum bisa ngasih ke ortu.

Saya paling lama kerja disitu. Hampir 10 bulan. Dan tetap saja hati ini masih blum juga sreg karena sesekali waktu masih ada ikhtilat, kesia-siaan dan lain-lain.

At last but not the least. Saya memutuskan menikah dan keluar dari LIPI merenda cita-cita saya, menjadi ummu wa robbatul bait dan menjadi herbalis.

Lagi, keluarga saya kecewakan. Belum bisa apa-apa udah keluar dan nikah, padahal anjuran keluarga saya tetap saja di LIPI nanti bisa jadi PNS.

Ya, sayapun kecewa, pahit rasanya, tapi saya rasa bakti saya dengan bekerja di luar tanpa mengindahkan aturan Pencipta adalah bakti dusta. Cukup sudah dilemma ini mengemuka.

Saya bilang pada Ummi, “Ummi, Neng juga ngerasain sakit, blum bisa sesuai harapan, tapi Ummi tau kan kondisi pabrik seperti apa, kondisi dunia kerja di luar kaya apa? Ga cocok buat Neng, bahkan buat perempuan lainnya. Insyalloh ilmu kimia ini ga sia-sia, ga ada yang sia-sia…” lalu saya ceritakan grand design masa depan saya, langkah-langkah saya, sambil meminta doa darinya.

Kini, hari-hari bergulir, usaha demi usaha berlangsung, tidak dengan dilemma. Meski masih banyak yang bertanya-tanya. Semoga baktiku kali ini tidak dusta.

Hiks..hiks..I love U all my family…! My wish, alloh will meet us each other in Jannah!

Siapa yang salah atas dilemma yang banyak menimpa kaum muslimah kita?

Paradigma, ya kesalahan paradigma ditambah kebutaan akan realita.

Wahai para ayah, kami anak perempuanmu. Sungguh, bukan pabrik tempat kami! Tempat kami adalah madrasah-madrasah keilmuan tempat menimba bekal untuk membangun generasi…

Duhai para Ibunda, ajarilah kami menjadi seperti kalian…

Tangan-tangan cekatan…ucapan-ucapan lembut nan menawan…

kesabaran…ketawadhuan dan keistiqomahan…

Wahai kaum pria, bertanggungjawablah! Bertanggungjawablah, sebagaimana tanggung jawab kami mengandung dan melahirkan anak-anak kalian.!

Bertanggungjawablah sebagimana tanggung jawab kami merawat dan mendidik anak-anak kalian!

Bertanggungjawablah sebagaimana kami mengurus rumah dan menyiapkan makanan untuk kalian!

Wahai diri, bertanggungjawablah atas apa-apa yang ada di bahu kalian!

13 Dzulqo’idah 1429, yaumuttasyrik…