Kali ini dua kebudayaan bertemu beriring-iring. Dua kebudayaan yang notabene satu sama lain saling membinasakan. Ruhnya jauh berbeda, yang pertama beraroma langit namun pahit, yang berikutnya beraroma comberan namun nikmat.

Baru saja dua hari yang lalu kami mem-flashback memori kami atas peristiwa legendaris sang legenda, manusia terbaik sepanjang penciptaan manusia salallahu ‘alaihi wasalam . Peristiwa yang menjadi titik tolak dirinya -salawat dan salam atasnya- menjadi pemimpin sekelompok manusia pilihan-radhiaLLoHu’anhum- atas jiwa-jiwa mereka, hati dan pikiran mereka, harta dan ahli waris mereka, juga wilayah kekuasaan mereka, baik secara de facto maupun de jure. Itulah peristiwa hijrahnya Rasul salallahu ‘alaihi wasalam bersama para sahabat-radhiaLLoHu’anhum- dari Mekah ke Madinah.

Ya. Baru saja dua hari yang lalu jiwa kami terbasuh semangat itu. Baru saja dua hari yang lalu kami menginginkan generasi keturunan kami teguh, sebagaimana keteguhan kaum Muhajirin untuk hijrah, meninggalkan kenyamanan hidup dan mapannya harta, meninggakan kabilah demi terciptanya kabilah baru yang lebih mulia meski jalannya berliku. Baru saja dua hari yang lalu, kami menginginkan generasi keturunan kami saling memuliakan dalam kebenaran, saling berkorban dalam kehidupan sebagaimana kaum Anshor mengorbankan setiap inci apapun milik mereka untuk saudara seiman mereka, kaum Muhajirn.

Ya. Baru saja kemarin semangat kami demikian meletup-letup untuk mendidik anak keturunan kami menjadi generasi yang menapaki jalan generasi terdahulu yang sholih lagi terjamin.

Namun, malam ini…
Redup dan hilanglah semangat itu.

Dengarlah! Malam ini, adzan Isya pun samar oleh riuhnya jeritan-jeritan terompet. Membuat kami tuli atas jeritan saudara kami yang tengah dibantai di Jalur Gaza.

Dengarlah! Malam ini, bising terdengar ledak-ledak petasan dan kembang api spesial tahun baru kuffar.
Membuat kami lupa atas ledakan-ledakan ranjau dan desing-desing peluru kuffar di Iraq dan Afghanistan.
Oh oh…tidak-tidak, mungkin ini wujud simpati mereka, saking empatinya hingga ingin merasakan khusu’nya medan jihad dengan membakar petasan… DHUARRR!!

Sekarang, lihatlah! Sejak sore para orang tua sudah sibuk membumbui ikan dan ayam untuk dibakar menjelang tengah malam. Aromanya menjadikan hidung ini banal atas tubuh-tubuh saudara kita yang juga dibakar, bukan dengan arang tapi dengan rudal.

Coba, lihatlah lagi! Malam ini anak gadis dilepaskan, seperti lepasnya kuda dari kukungan. Berdandan, tanpa lupa menyemprotkan parfum yang mampu menyengat ubun-ubun para jejaka yang sudah berderet-deret menunggu di ujung gang.
Nyalakanlah televisimu malam ini! Lihat, layar kaca berubah jadi bioskop! Nyaman sekali nonton artis-artis yang seliweran sambil makan kacang rebus yang disiapkan nenek untuk tahun baruan.

Seakan biasa, demikianlah ritualnya.
Padahal baru saja kemarin, kami diingatkan oleh 1 Muharram..