Segala puji bagi Alloh yang telah memberiku kesempatan belajar dan belajar. Keinginanku untuk berkontribusi lebih tengah bermetamorfosa lagi. J Aku senang mengetahui proses ini. Kembali memahami realita dan menyandarkannya lagi dengan idealita.

Kini, aku sedang membangun benteng pertahanan terakhir ummat ini. Proyek yang diawalnya saja sudah demikian menantang. Proyek yang dilalui Fathimah AzZahro yang kemudian mengantarkannya menuju kenikmatan abadi. Taman yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Dari benteng inilah aku hendak melebarkan sayapku, merangkul kerabat dan komunitas yang lebih luas untuk bersinergi menegakkan kembali kepala ummat yang telah lama lunglai.

Meski benteng yang tengah aku bangun ini belum menemukan tempatnya, namun aku dan sang arsitek sedang merancang pondasinya, dindingnya, tiangnya, juga atapnya dengan rancangan terbaik. Kami kumpulkan tiap-tiap butir paku dan tiap genggam pasirnya. Kami ukur tiap inci kayunya. Kami rawat isi yang sudah ada dan kami persiapkan apa-apa yang belum ada. Sungguh, perjalanan baru saja dimulai. Let’s enjoy this journey!

Tentu saja dalam proyek ini aku sudah kebagian porsi, yaitu merawat isi benteng yang sudah ada. Dan ini bagian yang sudah berat bagiku. Namun, keinginan untuk mengakselerasi proyek ini begitu kuat. Jadilah aku putar otak mencari-cari celah untuk menambah porsi.

Porsi tambahan pertama yang aku minta adalah membantu membawakan pasirnya. Sang arsitek membolehkanku dengan syarat tugas utamaku tidak terbengkalai. Ya. Ya. Aku menyanggupi.

Waktu melesat, tanpa memberikan kesempatan kecuali bagi orang-orang yang yakin dan beramal sholih. Ow ow.. Porsi yang ku ambil ternyata diluar kemampuanku. Aku tidak punya sekop dan gerobak untuk mengangkut pasir-pasir itu dari ujung jalan sampai ke markas kami yang melewati jalan setapak. Aku cuma punya sebuah sendok dan ember. Bayangkan! Sama sekali tidak efektif.

Baiklah, aku beralih pada porsi tambahan yang lain. Aku akan membantu membelikan paku-pakunya. Sang arsitek kembali membolehkanku tanpa mengubah persyaratannya. Aku pun menyanggupi lagi.

Ternyata medan yang harus kutempuh agar sampai ke toko bahan bangunan memaksaku mengeluarkan energi terlampau banyak, jadi cenderung sia-sia. Sampai-sampai gara-gara ini, tugas utamaku terganggu. Sang arsitek pun menegurku. Ya. Aku menyadari, ternyata ini belum bisa menjadi porsiku.

Dua pengalaman berharga. Pengalaman yang justru melipatgandakan semangatku untuk mencari celah kesempatan yang lain lagi.

Akhirnya, dengan pola strategi yang sudah disegarkan ditambah keinsyafan yang lebih, aku mengajukan proposal meminta tambahan porsi lagi. Insyalloh kali ini sinergis dengan tugas utamaku. Aku bukan cuma merawat isi benteng melainkan juga akan aku tingkatkan kualitasnya dengan cara menyapukan sayapku pada lingkat keamanan benteng lapis dua dan tiga.

‘Katakanlah wahai hambaku yang beriman, bertakwalah kepada Robb kalian. Bagi orang-orang berbuat baik di dunia akan memperoleh kebaikan. Dan bimu Alloh itu luas. Sesungguhnya hanya bagi orang-orang yang sabar disempurnakan bagi mereka pahala yang tanpa batas.’ (QS. AzZumar:10)

Robbiulawwal 1430, setelah jualan coklat

Tanpa mengurangi kesyukuranku atas limpahan kenikmatanNya.

Dalam kondisi terbaik untuk bangkit, bergerak, dan terbang. Di semua lini. Posisi dimana aku bersama orang-orang terkasih sedang belajar berjalan, kemudian berlari dan melompat dengan kaki kami sendiri.