Untuk pasangan yang menikah secara sah saja masih memerlukan alat kontrasepsi. Untuk apa? Toh kalau hamil juga ada bapaknya. Bukan itu. Tapi untuk mengatur kelahiran anak-anak.

Anak kami 2, yang pertama 2 tahun 2 bln dan yang kedua 1 tahun. Dua tahun dua anak. Repot, pasti.

Bagi saya anak adalah wewangian surga. Mengharuminya saja sudah membuat bahagia. Sungguh, betapa nikmat saat memiliki dua batita yang  sedang pesat-pesatnya tumbuh dan berkembang. Bahagia tak terkira saat mereka bisa memahami dan melakukan apa yang kita contohkan.

Bagi saya pula, anak adalah fitnah bagi kedua orang tuanya. Betapa saya harus rela mendengar jerit tangis kedua batita ketika saya membersihkan diri hendak sholat. Karena memang keduanya termasuk yang agak sulit ditinggal. Bahkan saat saya sedang sholat, tidak jarang si bungsu masih konsisten dengan tangisnya dan tangan yang menggapai-gapai apapun dari pakaian sholat saya. Dan ini tentu mengganggu sholat saya. Belum lagi sang kakak yang masih menjalani toilet training, tidak jarang setelah saya sudah berwudhu dia minta diantar pipis atau keburu pipis di lantai saat saya masih menggunakan kamar mandi.

Betapa sulitnya sabar saat lelah sudah meraja namun anak tidak kunjung lelap.

Dibutuhkan kesbaran sepanjang waktu. Dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari sepekan. Di butuhkan ketahanan diri untuk menahan emosi, sepenat apapun diri kita. Dibutuhkan kesiapan kesiapan kita untuk selalu siap melayani. Anak dibawah 7 tahun itu ibarat raja. Dan banyak ibu yang memiliki anak di bawah 7 tahun bukan hanya satu, mungkin dua, tiga, empat, lima, enam, bahkan tujuh. Semua butuh perhatian ekstra.

Bahkan untuk kebutuhan pokok sang ibu semisal makan saja sulit dilakukan, apalagi untuk sekedar menyisir rambut, padahal ini cukup penting, demi menyegarkan pori-pori kepala.

Belum lagi untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan mereka. Memang selalu ada rezeki untuk mereka. Tinggal yang menjadi PR orang tua adalah bagaimana mencari dan menyediakannya dengan halal, baik, dan ikhlas.

Disinilah saya rasa perencanaan akan kelahiran anak diperlukan, untuk mengukur kemampuan kita menyediakan kesabaran dan segala pernagkat yang mendukung tumbuh kembang tiap-tiap anak. Jangan sampai, kita mencedarai masa-masa penting mereka. Itu saja menurut saya.

Silahkan jika siapapun tidak hendak KB. Semua pilihan senantiasa diiringi konsekuensi.

Namun, sebaik apapun perencanaan manusia, tentu Allohlah yang menajdi epmutus emua perkara. Jika memang program kita tidak berhasil, atau kok hamil ya, padahal sudah KB. Maka, laa yukalifuLLoHu nafsan illa wus`aha. Berarti kita mampu dan dipercaya. Bersyukurlah. Namun, persiapkan dengan sungguh-sungguh semua perangkat tumbuh kembang mereka, lahir dan batin, moril dan materil. Karena jika tidak, mereka hanya menjadi fitnah untuk kita. Na`udzubillah min dzalik. Mintalah senantiasa kemudahan dan pertolonganNya, karena tiada daya dan kekuatan melaikan dari Alloh. Wallohu`alam.