Kenapa dulu saya keteteran ya di SM*KBO??

Ya iyalah..di SM*KBO itu dulu belum faham banget udah ulangan, kayanya pengayaannya kurang d (ups siapa yang mau ngulang-ngulang…dengan waktu yang terbatas, dengan bahan ajar yang seabrek). Toh buktinya tetap saja ada  yang JU! Berarti dengan metode pembelajaran yang seperti itu tetap ada yang berhasil.

Tapi…apa dengan demikian, serta merta metode yang dipakai di sekolah saya dulu itu bisa dibilang benar? Mmm…i don`t think so… Why?? Karena selama penempuhan pembelajaran saya di sana jauuh lebih banyak yang saat ujian masih blingsatan!

Memang saya akui, teman-teman yang tiap selesai semester berderet maju di lapangan upacara itu, yang pada juara itu, otaknya kelas aksel. Ups, masa sih? Bisa jadi.. Ato kami yang rakyat kelas dua ini yang kurang memaksimalkan potensi otak kami? Bisa juga. Kalau saya pribadi, sepertinya terlampau asik dengan tugas ekstra disamping pelajaran sekolah yang ternyata untuk kapasitas saya membutuhkan proses penyerapan yang lebih ekstra dari usaha yang saya alokasikan. Ato…mungkin, mungkin, mungkin. Fine. Memang selalu banyak kemungkinan. Kemungkinan tukang nyontek jadi juara kelas juga ada kok, wkwkwk.

#Huhuyy…jadi review lagi ney, flashback… Lumayan, buat pengibrohan bikin sekolah..khususnya dan yang sudah di depan mata, setiap detik harus stand by jadi sekolah, ya itu! Ya, Mesia dan Utruj itu, aku kan ibunya, yo aku sekolahnya, madrasahnya.

EQ, SQ, dan IQ

Emosi atau pelibatan diri yang personallah dengan mata pelajaran yang akan diajarkan yang dapat membangun makna kegiatan belajar mengajar di sekolah –dalam pengertian saya ruang sekolah adalah semesta, di mana pun dan kapan pun J-

Emosi menjadikan seseorang itu unik. Dalam proses pemelajaran, masing-masing siswa akan berbeda dalam menerima informasi yang diberikan kepada mereka, setiap orang akan memaknai informasi yang datang dalam rumusan yang unik.

Kelas yang tanpa melibatkan emosi di dalamnya akan terasa kering, kaku, formal, dan monoton.

Nikmati indahnya ilmu pengetahuan, begitu kata Ranchoddas Syamaldas Chanchad dalam 3 Idiots.

Flashback..

Coba! Mengapa mesti ngantuk belajar kimia dasar? Mengapa mesti bosan belajar fisika? Toh dapat memahami atau mengerti suatu hal itu sangat menyenangkan? Ahh..klo dua pelajaran ini mah, klo saya pribadi, seriuss, waktu di kelas merasa kurang dapat daya dukuung…eksternal bu.. Semoga sekarang lebih baik.

Apalagi ya? Mmm..mencoba mengingat, pelajaran apa yang tidak saya sukai?? Hohow..PPKN! Kenapa? Mmm…ga juga sey, sebetulnya ada pentingnya juga bahas itu, jadi tahu ow..norma resmi di negara ini begitu tho. Banyak rusaknya!

Permasalahannya adalah jika saya dipaksa mengakui juga norma-norma tersebut sebagai norma resmi pribadi saya tanpa reserve! Dan ini kerap dilakukan oleh oknum guru feodal! Ingat, guru bukan dewa, dan murid bukan kerbau, begitu pesan Soe Hok Gie dalam filmnya. Hehe, saya berlebihan rupanya. Biasa saja lah. Ya, lakukan kritisme ini secara sederhana saja, karena dalam dunia kapitalis macam sekarang, semua perlawanan bisa diindustrialisasikan. Lihat saja Che Guavara, bintang merahnya nempel di t-shirt berkodi-kodi di Tanah Abang.

Tapi memang, pelajaran PPKN yang saya lalui semasa tersekolah dulu itu mati, tidak bernyawa. Tanya saja dengan kawan-kawan seangkatan saya, semua tidak lebih dagelan karang-mengarang, atau paling banter hafalan aturan beberapa halaman untuk kemudian disetor di lembar jawaban UTS atau UAS. That`s it! Daan…hafalan-hafalan itu tidak bisa kami pakai dalam kehidupan sehari-hari kami, tidak relevan. Apalagi dibaca saat sholat, hehe, jauuh panggang dari api.

Sampai sini dulu flashbacknya…

Nah, setelah seorang pemelajar mampu merasakan bahwa memahami dan mengerti sesuatu itu sangat menyenangkan, maka buatlah karya!, Karya cipta inilah yang menghubungkan antara dunia nyata dengan mata pelajaran yang dikuasai. Jika dua hal diatas -perasaan menyenangkan dan karya- telah dicapai oleh seorang pembelajar, maka disinilah proses belajar telah sampai pada tahap pelibatan IQ dan EQ.

Bagaimana agar EQ terlibat?

Saat kita belajar, tanyakan pada diri kita, apakah mata pelajaran ini membuat diri kita lebih baik? Apa Manfaatnya Bagi saya?

Nah, kemudian yang paling penting adalah, dimana posisi SQ?

Pertanyaan lanjutannya setelah manfaat sudah kita ketahui adalah, apakah hal ini diridhoi Alloh? Memenuhi kaidah prioritas tholabul `ilmi kah? Semakin membuat kita dekat pada Alloh atau malah menjauhkan?

Mengapa proses pembelajaran kerap kali kering dan kaku?

  1. Proses pembelajaran tidak dalam kondisi yang menyenangkan. Artinya ketika si pemelajar mendapatkan mata pelajaran tersebut, dia berada dalam keadaan yang diliputi emosi negatif (risau, tertekan, bingung, kalut, cemas, dan sebagainya). Emosi negatif kadang bersifat menolak atau membawa seseorang tidak dapat berkonsentrasi atau fokus.
  2. Lingkungan eksternal yang meliputinya (termasuk jika ada pengajar yang membantu si pemelajar memahami mata pelajaran yang dipelajarinya) benar-benar tidak menyamankan (udara panas, perut lapar, presentasi hanya satu arah, kering, kelelahan fisik dan psikis melanda). Yang lebih parah, jika para pengajar tidak lebih dulu melibatkan emosi dalam proses pengajarannya, ia memisahkan mata pelajaran itu dengan dunia nyata dirinya. Pengajar hanya mengikuti instruksi dari buku yang berisi petunjuk pengajaran dan materi apa yang akan diajarkan secara urut. Guru hanya menjejalkan kepada murid karena ingin yang `dijejalkan` itu cepat habis sesuai kurikulum. Tidak ada kesempatan untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan terdalam sang guru dan kehidupan sang murid yang bermacam-macam dan berlapis-lapis.
  3. Di dalam diri si pemelajar memang tidak ada pengalaman yang benar-benar pernah eksis yang terkait dengan mata pelajaran yang sedang dipelajarinya. Yang perlu diperhatikan pada halketiga ini adalah ada kemungkinan dia punya pengalaman tentang mata pelajaran yang sedang dipelajarinya, namun pengalaman itu membuatnya mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Maka, ini jelas perlu dievaluasi secara cermat oleh semua pihak yang terlibat dalam proses pemelajaran.

***ini seperti peljaran menjahit bagi diri saya, kok kayanya ribet ya, sampai saat ini belum ada keinginan yang kuat bahkan belum ada prioritas bagi diri saya untuk menyengajakan diri mempelajari itu, terbayang jika saya dalam kondisi dipaksa mempelajarinya***

Flashback…

Ingat betapa kejamnya Lab. KI SM*KBO??

”Hohoo..mamamia..di mana nalarmu?!”

Ingat betapa tidak nyamannya di kuis?

Kenapa kok malah senang bikin tegang ya. Terkesan senang memformil-formilkan. Padahal jika proses kuis menguis ini dibawa santai, mengalir, alamiah saja, manusia dengan manusia, didasari kaidah memahami kemudian memahamkan. Rasakan indahnya ilmu pengetahuan.

Atau memang untuk siswa yang sudah berhasil melibatkan IQ, EQ, dan SQ dalam proses pembelajarannya, bisa jadi faktor eksternal yang membawa emosi negatif itu menjadi kawah candradimuka untuk menempa IQ, EQ, dan SQ. Dan ia melakukannya dengan sadar (tidak terbawa permainan oknum eksternal tadi). Ahh, menyenangkannya punya diri yang merdeka!

Nah, yang berbahaya adalah jika oknum eksternal tersebut melakukan sikap yang tidak mendukung pembelajaran tersebut tidak dengan kesadaran, tapi membabi buta, out of control, dengan sederet keangkuhan yang sama sekali tidak berorientasi melatih EQ, SQ, dan IQ siswa. #semoga Alloh  mengampuni dan kemudian memberikan hidayah taufik dan ilmu pendidikan yang benar pada semua guru di dunia ini#

…Ayolah.., make it flow and easier..make it Quantum Lab, KI!

Karena bukan hanya semangat dan gairah yang akan muncul jika tiga hal tersebut dilibatkan. Kemungkinan besar si pemelajar akan mencoba menciptakan sesuatu yang baru yang berasal dari kedalaman dirinya. Karena emosi dapat menjangkau hal-hal yang paling dalam yang disimpan oleh seseorang dalam dirinya, proses penciptaan  tersebut bisa jadi sangat unik. Jadi, dengan memadukan EQ, IQ, dan SQ seorang pemelajar akan menunjukkan dirinya lewat karya-karya ciptaannya. Apapun itu.

…..semoga tidak lama lagi akan ada sekolah seperti itu…

Flashback…

Karena kreativitas seseorang itu unik, maka kreativitas satu pembelajar dengan pembelajar yang lain akan muncul dengan rangsangan yang berbeda-beda, mungkin, ini baru mungkin lho ya. Kreativitas saya akan lebih muncul dan melompat-lompat dengan faktor eksternal –setelah melibatkan SQ, EQ, dan IQ- yang segar, warna-warni, ceria dan penuh semangat.

Seperti misalnya, Laboratorium Kimia Terpadu III yang temboknya dicat oranye, hijau muda teduh, kuning, merah jambu. Kemudian ditempeli poster-poster bagan kerja yang eye-catching. Juga tidak ketinggalan tempelan kalimat-kalimat yang menggugah semangat, terutama membangkitkan SQ, misal ”Berkaryalah sebaik-baiknya! Niscaya Alloh dan kaum muslimin akan melihat karyamu!” atau ”Berhati-hatilah dalam praktikkummu, apapun yang terjadi tetap tenang dan senantiasa berdzikir.” Bisa juga, ”Laa haula wa laa quwwata illa biLLaH, tiada daya dan kekuatan melainkan dari Alloh.” Dan di ruang timbang, ”All is well = Syukur+Sabar”. J Hahaha, keren yo?!

Tapi, tentunya tidak begitu jika kita mengecat masjid. Warna cokelat muda kekreman bisa menjadi pilihan. Karena di tempat ini perenungan dilakukan, permohonan kepada Alloh Subhanahu wa Ta`ala dipanjatkan. Sehingga dibutuhkan lingkungan yang menciptakan atmosfer kekhusuan yang jujur dan ikhlas.

***okkeyy,,that`s my resume!!*