Menginjak usia anak pertama saya 1 th 9 bln dan anaka kedua 7 bln, kesabaranku mulai memasuki masa-masa keemasannya. Ia digali dari perut bumi, dari mulai dengan alat gali sederhana sampai yang berteknologi tinggi. Kemudian setelah bongkahan batu berkialu tembaga yang juga kadang mengindikasikan kandungan emas diperoleh, ia dihancurkan berbutir-butir, kemudian disaring dengan penyaring mikron. Setelah bijih-bijih berharga itu didapatkan segera ia dibawa menuju pembakaran, dilelehkan pada titik lelehnya, kemudian sesuai peruntukannya ia dicetak dengan cetakan dan bentuk yang sangat banyak dan beragam. Ya. Masa keemasan kesabaran sepanjang hidup saya yang belum seperempat abad ini.

Yah, betapa saya kerapkali kesulitan mempraktikkan apa itu kesabaran dalam menemani tumbuh kembang mereka yang tengah memasuki masa-masa pentingnya. Kesabaran saya butuh direnew, direfresh,entah sehari berapa kali.

Sepertinya semua ibu yang memiliki balita paham benar apa yang saya rasakan. Seorang ibu pernah berbagi rasa pada sebuah blog milik seorang kawan yang juga seorang ibu, `ga ada itu ibu yang sepanjang waktu senantiasa dapat enjoy dengan toddlernya`.

Yah, begitulah, karena ibu juga manusia. Dengan sederet kelebihan dan kekurangan. Dengan kondisi emosi yang sangat fluktuatif, karena ia diciptakan dengan perangkat tubuh yang didominasi oleh siklus hormonal.

Ada kalanya sang ibu menyambut hari dengan semangat berpijar-pijar, dengan kondisi badan yna fit, dengan senyum ynag teramat manis, pikiran yang jernih, dan dada seluas samudera. Ia sambut bangunnya balita mereka dengan kehangatan dan antusiasme mempraktikkan teori-teori parenting yang baru ia baca semalam. Namun, seiring perjalanan hari, ada kalanya ia kalah, pada perjalanan hari itu ia berubah menjadi sensitif, mudah marah, inginnya dimaklum, bahkan oleh anak 1 tahun sekalipun. Seolah energi untuk memahami tingkah polah sang anak-yang memang tidak melulu lucu dan menggemaskan- sudah terkuras habis. Ya! Disinilah setan mendapatkan celahnya.

bersambung…