Saya sedang terpesona oleh seorang healthy chef, yup benar! Edw*n L*u

Sudah lama saya tidak menengok televisi, kemudian tanpa sengaja setelah menonton CD bersama anak saya melihat-lihat sebentar acara televisi, ada Foodvag*nza bersama Edw*n L*u.

Iseng saya tonton, kok segala ngajak belanja ney, then then then…saya tonton lah sampai kelar, perfecto! He was successfully making me waah..at the first impression! Smart dan menguasai. Kayanya juga ilmunya ilmu konsisten deh, look at his mucles, jarang-jarang seorang koki berbadan binaragawan. Biasanya klo juru masak teh tambun, hehe. Coba, waktu dia mau pakai lemon. Dia faham apa itu lemon, apa kandungannya, apa manfaatnya, apa kekurangannya, bagaimana perubahannya jika dimasak, jika dicombine dengan bahan makanan lain. Dan dia sentuhkan ilmunya itu pertama-tama untuk dirinya, untuk hidup kesehariannya.

Let me share that episode I’ve watched that moment.

Kali ini ia hendak memasak salad saus kacang. Dibawanyalah pemirsa ke sebuah hypermarket. Pertama ia bawa menuju rak kacang-kacangan, ada lebih dari 10 jenis kacang-kacangan, peanut, hazelnut, almond, kacang mete, cashew, kedelai, biji bunga matahari, dan lain-lain dan lain-lain, nut, nut, nut, saya banyak yang lupa namanya, kurang familiar, maklum banyak produk impor.

Nah, yang membuat hati saya tertambat untuk kali pertama adalah dia dengan piawai menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing-masing kacang itu dalam durasi waktu yang fantastis, tek, tek, tek, sistematis, cepat, tapi tetap tenang, santai, dan humble, sama sekali tidak terkesan sok tahu.

Hadoohh..belajar di mana ya ney orang..asli bu, dua jempol lah!

Kemudian dengan gaya yang sama dia ajak saya, lho? Maksudnya pemirsa, untuk memilih pisang, karena salah satu bahan baku salad kali ini adalah pisang. Dia memulai. Pilih pisang yang tidak terlampau matang, karena kadar gulanya blum terlalu tinggi, dan vitamin C nya masih banyak. Diambillah sesisir pisang (kayanya jenis pisang calvandis) yang pangkal sisirnya masih kehijau-hijauan dengan kulit yang bersih tidak berbintik. Karena katanya kalau kulit pisang sudah mulai berbintik artinya pisang sudah matang dan kadar gulanya tinggi. Tapi jangan yang belum masih mentah juga, katanya, kaga enak. Saya geli juga dengar dia bilang `kaga`, nah ini maksud saya tetap santai dan humble.

Terus beralih ke stand tomat, dia ambil dua pack tomat, satu tomat apel satu lagi tomat ceri. Tomat ada banyak jenisnya, katanya. Tomat tinggi kandungan likopennya, senyawa yang mampu mencegah kanker payudara. Ini ada dua jenis tomat, kandungan vitaminnya sama saja, tapi saya mau pakai tomat ceri karena lebih manis. Kadang tomat ceri disebut juga grape tomato. Ok, tomat sudah.

Sekarang kita pilih nanas. Nanas mengandung bromalin, bagus banget untuk mempercepat masa pemulihan setelah sakit. Jadi, di salad kita nanti ada gurih lezat dari kacang, manis segar dari tomat ceri, dan asam khas pineaple! Hmmm…komplit! Begitu tuturnya.

Nah, ketika dia meramu saladnya, mempertunjukkan cara memasaknya. Pastinya dengan peralatan memasak yang sudah lolos standar Food Grade FDA (Food and Drugs Administration), peralatan memasak berlapis titanium dengan kode 316Ti, yang merupakan standar stainless steel tertinggi. Anti korosi, tidak bereaksi dengan asam dan garam, dan aman bagi kesehatan. Bahan yang dipakai untuk adonan pesawat antariksa karena tahan panas dan stabil. Juga dipakai untuk transplantasi tulang manusia. Bahan yang ringan namun kuat, dipakai pula pada kacamata dan sepeda balap. Hhuft…mahal? So pasti…

Kembali ke cara memasak. Sambil memasak, ia membahas lagi dengan cukup detail sisi kesehatan masing-masing bahan saat terjadi proses pemasakan. Kenapa ini dikukus, kenapa wortel dan kentang panas langsung dimasukkan ke air es, kenapa untuk pemanisnya dia pilih madu, kenapa pengencernya pakai air lemon, kenapa kalau kita menyantap karbohidrat sebaiknya dibarengi dengan protein, mengapa hati nanas juga disarankan untuk ikut diolah. (Hmm..sampai sini saya jadi mempertanyakan Muslim bukan ya ini chef? Kalau dari namanya saya ragu kalau dia ini Muslim, nanti lah cari tahu, pikir saya.)

Wortel dan kentang panas langsung dimasukkan ke dalam air es agar pori-pori yang terbuka saat pengukusan, langsung tertutup sehingga teksturnya menjadi mengkal, juga warna terlihat lebih segar. Nah, kentang itu tinggi kandungan vitamin C-nya, tapi tinggi juga glycemid-nya. Apa itu glycemid? Saya juga lupa, sejenis gula sepertinya.

Kenapa pemanisnya madu, karena madu itu makanan yang mengandung gula sehingga manis, namun diimbangi dengan gizi lain yang komplit yang mampu menekan efek buruk gula. Semakin hitam madu semakin oke. Versinya chef ini, pilih madu yang tinggi bee pollennya karena komplit protein. Untuk air lemon, kenapa ya? Saya lupa euy.. Tapi, kalau tentang karbohidrat dan protein, saat kita memakan karbohidrat sebaiknya dengan protein agar kadar gula darah kita akibat asupan karbohidrat tadi tidak naik secara drastis, karena ditekan oleh protein. Dan kenapa pula hati nanas ikut dipakai, karena kadar gulanya paling rendah sementara kadar bromalinnya paling tinggi dibanding bagian nanas yang lain.

Look! Satu episode saja sudah cukup banyak ilmu nutrisi yang saya dapat, ini pun banyak yang terlewat karena saya tidak memegang catatan saat menonton. Sampai saya disadarkan oleh suami, Umm, anaknya ney muntah, kecapean bercanda. Karena memang sedari selesai lihat CD, ia bercanda dengan ayahnya sementara saya khusyuk menonton sambil bergumam-gumam, wih mantep ney orang, wih gape banget ya, flamboyan pula gayanya… Suami saya sampai ikut-ikutan nyeletuk, apa sih Umm, wah wih wah wih, gape gape. Saya jawab, ini lho, coba tahasus (mengkhususkan diri) sampai sejago ini. Btw, Ay, doi muslim bukan ya? Saya memberi pertanyaan aneh pada suami. Chinese deh kayanya. Tapi, wallohu’alam. Saya menjawab pertanyaan saya sendiri. Namun sejurus kemudian, saat salad itu hampir selesai pertanyaan saya mendapatkan petunjuknya. Dengan santainya ia menambahkan mirin (arak Jepang) ke dalam salad yang terlihat light dan segar itu.

Kecewa! Aku kecewa, apa sehatnya arak…hhhh…aku kecewa… Mana ini, ada tidak Healthy Chef yang juga concern dengan perkara halalan thoyyiban??? Sebel ah, udah seneng-seneng makanan sehat eh ditambah arak.. Saya ngedumel. Sudahlah kalau begitu, dicari Halal and Healthy Chef! Muslim!

Belum ada kayanya atau ada tapi belum seterkenal Edw*n L*u apa ya? Saya menghibur diri. Ternyata neneknya anak-anak menyimak obrolan kami dan ikutan nimbrung, ”Udah…Aa aja tuh jadi chef…”. Menyuruh todler saya yang habis muntah tadi. ” Ga mesti harus jadi chef, tapi harus bisa..”, suami saya menanggapi. Heuh…apa maksudnya, saya juga belum mengerti..

Dari sini saya jadi berfikir lagi, kalau Healthy Chef itu muslim dan konsisten dengan keislamannya melebihi konsistensinya terhadap ilmu gizi, ilmu nutrisi, ilmu cuisine, dan ilmu kesehatannya. Tentunya ia tidak akan menambahkan mirin pada saladnya itu dan bahkan dengan kapasitas dirinya, dia bisa menjadi partner MUI dan Bapak Anton Apriantono (pejuang makanan halal, konsultan ahli di milis halal-baik-enak, mantan Menteri Pertanian) mengedukasi ummat mana makanan halal, thoyyib dan sehat.Yup, because it`s not more than issue, jika di negeri yang penduduk muslimnya terbesar di dunia ini, perkara terigu halal saja masih keteteran. Karena selalu ada yang lebih jika ilmu diampu secara mendalam oleh ilmuwan muslim yang konsisten, lebih aman, nyaman, manfaat, dan berorientasi keumatan.

So, dicari Halal and Healthy Chef!

Setelah selesai menulis ini saya mengambil handphone dan mengetik sms untuk sahabat saya, “Salaam. Sehat Mom, kumaha telinga Ci Alin, sudah sembuh? Diriku habis curat coret yeuh, tersepona dengan Edw*n L*u. Tadi siang liat Foodv*ganza. I think, we have to pursue an Islamic Healthy Cuisine, Islamic Healthy Chef.. Sebagaimana saya miris sewaktu dirimu ter`wah`kan oleh Silo*m Hospital, begitu pula yang saya rasa ketika menonton acara itu, saat ia dengan santainya mencampur mirin pada saladnya.

*sahabat saya ini tengah hamil anak kedua, belum lama USG di sebuah klinik, diagnosanya, ada benjolan di bawah janin di dalam rahimnya. Tidak begitu saja percaya, ia mencoba second opinion pada rumah sakit besar, karena rumah sakit terdekat adalah Silo*m Hospital, dipilihnyalah itu. Sepulang dari sana ia sms saya, menceritakan betapa memuaskannya pelayanan di sana. Ia bilang, dokternya suabar banget, ramah, penjelasannya detail, menenangkan dan nyaman di hati. Dan hasil USG tiga dimensinya, ternyata janin dan ibu sehat wal afiat, tidak ada benjolan apapun. Sampai suami teman saya itu, prefer istrinya melahirkan di sana, kadung kesemsem dengan pelayannya, padahal sahabat saya itu bercadar. Hmm..