Fauzan namanya, saya senang bicara dengannya, usianya mungkin baru 8 tahun , tapi tuturnya lugas dan dewasa. Kata seorang tetangga ia dewasa sebelum waktunya. Hmm, zaman seperti ini mana ada anak yang tidak dewasa sebelum waktunya. Tapi, dewasa organ reproduksinya saja. Beda dengan Fauzan.

Kedua orangtuanya pergi ke Batam. Ia dan adik kecilnya yang belum setahun itu ditinggal dengan seorang nenek. Orang-orang memanggilnya Neneknya Fauzan. Fauzan dan neneknya bekerjasama berjualan gorengan, neneknya yang membuat dan Fauzan yang menjajakannya, berkeliling. Hebat. Dia juga sering terlihat menimang adik bayinya. Salut saya. Perkara orangtuanya lalai dan sebagainya, wallohua’lam, saya tidak berani menghakimi begini dan begitu. Itu hal lain.

Yang pasti, menurut saya,Fauzan satu langkah lebih maju dibandingkan kawan sebayanya. Jika apa yang dia jalankan tadi tidak dijalankan dengan kesedihan tapi sebagai pembelajaran. Ia punya waktu untuk belajar keterampilan dan berdagang adalah salah satu keterampilan. Lagipula zaman seperti ini, jika anak tidak diajarkan berdagang, terlibaslah dengan persaingan global, menunggu gelar magister untuk bersaing mah kelamaan, banyak toh sarjana yang menganggur, bingung, hanya menunggu panggilan kerja saja.

Bagi saya seorang lelaki yang sudah baligh harus sudah bisa menghidupi dirinya sendiri. Demikian yang juga saya tekankan pada anak-anak saya yang keduanya lelaki.Kelak, insya alloh ada waktu baginya untuk belajar ilmu syar’i dan ilmu kauniy.

Lihat saja sekolah-sekolah bermodel homeschooling macam teknonatur, khairu ummah, dll, mereka mengajarkan anak didiknya berdagang. Ya itu tadi melihat kebutuhan ke depan.

Saya ingin sekali berkata pada Fauzan, semangat Zan! Tetap tersenyum dan menyapa dengan gaya khas mu! May Alloh always take care of you my little Bro! Barokallohufik!