Saat membaca kata pengantar pada buku Islam Liberal 101 karya Akmal Sjafril, saya sampai membuka lagi sampul depan buku itu demi mengetahui judul buku itu lagi, batin saya, ini teh judulnya Liberal 101 apa Islam Liberal 101 sih?. Kemudian ketika saya melihat sampul tersebut ternyata judulnya ada Islamnya, agak kecewa, tapi saya tepis, oh mungkin untuk memudahkan penyebaran buku ini, istilah Islam Liberal sudah kadung dikenal.

Kemudian saya lanjutkan membaca dan terlupakanlah kegusaran saya tadi. Ternyata dan ternyata, kegusaran saya menemukan jawabannya pada bab Permainan Istilah. Let’s check this out!

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam pengantar untuk buku 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, istilah ”Islam Liberal” pada akhirnya terpaksa digunakan juga. Pertama, karena istilah ini sudah terlanjur dikenal luas. Kedua, karena ada kaidah dalam bahasa Indonesia yang mengizinkan suatu kata disandingkan dengan kata yang lainnya sehingga menghasilkan pengertian yang sangat berbeda dengan kata pertama. Sebagaimana orang utan bukanlah orang dan buaya darat bukanlah buaya, maka kita tak perlu khawatir menggunakan istilah ”Islam Liberal” dengan logika yang sama.

Toeng toeng toeng…toeng toeng toeng…
Setelah itu saya pun tersenyum lebar dan semakin semangat membacanya.😀

2010-12-16, Malam 11 Muharram 1432
Cucian piring numpuk, cucian tadi separo lagi belum dijemur.. Semangat semangat!!
*Syafakalloh ya sayang..