Pendidikan Islami Sejak Dini

Tinggalkan komentar

Anak adalah amanah yang diberikan Allah Swt pada para orang tua. Karenanya, orang tua berkewajiban mengasuh, mendidik, melindungi dan menjaga amanah Allah itu agar menjadi generasi muslim yang bukan hanya sukses di dunia, tapi juga di akhirat kelak.

Dalam keseharian, para ibulah yang memegang peranan penting dalam pengasuhan dan pendidikan putra-putrinya. Pernahkah para ibu merenungkan sejauh mana peranan yang mereka mainkan akan berpengaruh dalam perjalanan hidup si anak? Kita semua tahu bahwa semua perbuatan manusia selama di dunia dicatat dalam sebuah buku yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Begitu pula anak-anak kita kelak, dan isi catatan buku mereka selama di dunia sangat tergantung dengan bagaimana cara kita mendidik mereka, apakah kita menerapkan pola pengasuhan dan pendidikan yang cukup Islami.

Sebagai contoh, apakah anak-anak kita sekarang sudah memahami tentang hubungannya dengan Sang Pencipta? Lagi

Skill

Tinggalkan komentar

Skill is automaticcaly without thinking. (Teguh Handoko)

Si Abang Fauzan, Tetanggaku

Tinggalkan komentar

Fauzan namanya, saya senang bicara dengannya, usianya mungkin baru 8 tahun , tapi tuturnya lugas dan dewasa. Kata seorang tetangga ia dewasa sebelum waktunya. Hmm, zaman seperti ini mana ada anak yang tidak dewasa sebelum waktunya. Tapi, dewasa organ reproduksinya saja. Beda dengan Fauzan.

Kedua orangtuanya pergi ke Batam. Ia dan adik kecilnya yang belum setahun itu ditinggal dengan seorang nenek. Orang-orang memanggilnya Neneknya Fauzan. Fauzan dan neneknya bekerjasama berjualan gorengan, neneknya yang membuat dan Fauzan yang menjajakannya, berkeliling. Hebat. Dia juga sering terlihat menimang adik bayinya. Salut saya. Perkara orangtuanya lalai dan sebagainya, wallohua’lam, saya tidak berani menghakimi begini dan begitu. Itu hal lain. Lagi

Raising Children Here…

4 Komentar

Sulit kiranya menemukan kata yang pas yang dapat menggambarkan apa dan bagaimana itu mengurus anak. Bagi saya, mengurus anak adalah pekerjaan yang paling berat yang pernah saya rasakan, tapi juga paling menyenangkan. Mendampingi pertumbuhan manusia-manusia yang sedang gencar-gencarnya belajar. Sebuah proses yang panjang, yang sering menghadirkan kepingan-kepingan peristiwa penuh emosi yang kaya makna. Membuat saya tercenung, tertawa, menangis, dan campuran-campuran emosi lainnya. Allohu akbar wa lillahilhamd.

Sekeping peristiwa sore tadi. Anak pertamaku (2th 4 bln) pipis sembarangan. Padahal, sejak setengah jam sebelumnya saya sudah mengingatkan untuk pipis di kamar mandi. Gemas sekali rasanya. Tapi saya tahan untuk tetap terkendali, namun, tetap saya tunjukkan kekecewaan padanya. ”Astaghfirulloh Aa, anak sholih, masa pipis sembarangan, kan Ummun udah ingetin dari tadi. Katanya tadi iya, kalau pipis di kamar mandi..” Lagi

Subjektivitas Adalah Syarat Lahirnya Keunikan

Tinggalkan komentar

Subjektivitas adalah syarat lahirnya keunikan.

Itu Karena Masing-Masing Diri Adalah Unik

Don`t say again, ”Dia agak lambat bicaranya..” Hanya karena kawan seusianya sudah pandai melafadzkan Ar Rahman 1-8, sementara ia An Nas saja baru ujung-ujungnya, naass…nass.. Come on Umm, don`t! Masing-masing diri adalah unik, tidak ada ukuran standar. Tidak ada. Setiap anak akan berbeda dalam menerima informasi yang diberikan kepada mereka, setiap orang akan memaknai informasi yang datang dalam rumusan yang unik.

Sesungguhnya tiap diri akan belajar dan terus belajar sampai mati. Lagi

Kenapa mesti KB segala Umm?

Tinggalkan komentar

Untuk pasangan yang menikah secara sah saja masih memerlukan alat kontrasepsi. Untuk apa? Toh kalau hamil juga ada bapaknya. Bukan itu. Tapi untuk mengatur kelahiran anak-anak.

Anak kami 2, yang pertama 2 tahun 2 bln dan yang kedua 1 tahun. Dua tahun dua anak. Repot, pasti.

Bagi saya anak adalah wewangian surga. Mengharuminya saja sudah membuat bahagia. Lagi

Melakukan Apa-Apa Yang Sinergis

Tinggalkan komentar

Segala puji bagi Alloh yang telah memberiku kesempatan belajar dan belajar. Keinginanku untuk berkontribusi lebih tengah bermetamorfosa lagi. J Aku senang mengetahui proses ini. Kembali memahami realita dan menyandarkannya lagi dengan idealita.

Kini, aku sedang membangun benteng pertahanan terakhir ummat ini. Proyek yang diawalnya saja sudah demikian menantang. Proyek yang dilalui Fathimah AzZahro yang kemudian mengantarkannya menuju kenikmatan abadi. Taman yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Dari benteng inilah aku hendak melebarkan sayapku, merangkul kerabat dan komunitas yang lebih luas untuk bersinergi menegakkan kembali kepala ummat yang telah lama lunglai.

Meski benteng yang tengah aku bangun ini belum menemukan tempatnya, namun aku dan sang arsitek sedang merancang pondasinya, dindingnya, tiangnya, juga atapnya dengan rancangan terbaik. Kami kumpulkan tiap-tiap butir paku dan tiap genggam pasirnya. Kami ukur tiap inci kayunya. Kami rawat isi yang sudah ada dan kami persiapkan apa-apa yang belum ada. Sungguh, perjalanan baru saja dimulai. Let’s enjoy this journey!

Tentu saja dalam proyek ini aku sudah kebagian porsi, yaitu merawat isi benteng yang sudah ada. Dan ini bagian yang sudah berat bagiku. Namun, keinginan untuk mengakselerasi proyek ini begitu kuat. Jadilah aku putar otak mencari-cari celah untuk menambah porsi.

Porsi tambahan pertama yang aku minta adalah membantu membawakan pasirnya. Sang arsitek membolehkanku dengan syarat tugas utamaku tidak terbengkalai. Ya. Ya. Aku menyanggupi.

Waktu melesat, tanpa memberikan kesempatan kecuali bagi orang-orang yang yakin dan beramal sholih. Ow ow.. Porsi yang ku ambil ternyata diluar kemampuanku. Aku tidak punya sekop dan gerobak untuk mengangkut pasir-pasir itu dari ujung jalan sampai ke markas kami yang melewati jalan setapak. Aku cuma punya sebuah sendok dan ember. Bayangkan! Sama sekali tidak efektif.

Baiklah, aku beralih pada porsi tambahan yang lain. Aku akan membantu membelikan paku-pakunya. Sang arsitek kembali membolehkanku tanpa mengubah persyaratannya. Aku pun menyanggupi lagi.

Ternyata medan yang harus kutempuh agar sampai ke toko bahan bangunan memaksaku mengeluarkan energi terlampau banyak, jadi cenderung sia-sia. Sampai-sampai gara-gara ini, tugas utamaku terganggu. Sang arsitek pun menegurku. Ya. Aku menyadari, ternyata ini belum bisa menjadi porsiku.

Dua pengalaman berharga. Pengalaman yang justru melipatgandakan semangatku untuk mencari celah kesempatan yang lain lagi.

Akhirnya, dengan pola strategi yang sudah disegarkan ditambah keinsyafan yang lebih, aku mengajukan proposal meminta tambahan porsi lagi. Insyalloh kali ini sinergis dengan tugas utamaku. Aku bukan cuma merawat isi benteng melainkan juga akan aku tingkatkan kualitasnya dengan cara menyapukan sayapku pada lingkat keamanan benteng lapis dua dan tiga.

‘Katakanlah wahai hambaku yang beriman, bertakwalah kepada Robb kalian. Bagi orang-orang berbuat baik di dunia akan memperoleh kebaikan. Dan bimu Alloh itu luas. Sesungguhnya hanya bagi orang-orang yang sabar disempurnakan bagi mereka pahala yang tanpa batas.’ (QS. AzZumar:10)

Robbiulawwal 1430, setelah jualan coklat

Tanpa mengurangi kesyukuranku atas limpahan kenikmatanNya.

Dalam kondisi terbaik untuk bangkit, bergerak, dan terbang. Di semua lini. Posisi dimana aku bersama orang-orang terkasih sedang belajar berjalan, kemudian berlari dan melompat dengan kaki kami sendiri.

Older Entries